Beranda Sosial dan Budaya Tim PFA Dompet Dhuafa Turun Tangan Pulihkan Anak-anak Pasca Gempa Sulteng

Tim PFA Dompet Dhuafa Turun Tangan Pulihkan Anak-anak Pasca Gempa Sulteng

Foto istimewa

SERANG – Sudah seminggu lebih Dompet Dhuafa bergerak membantu korban gempa yang meluluhlantahkan wilayah Sulawesi Tengah dengan kekuatan 7,4 SR. Dompet Dhuafa bersama para aktivis kemanusiaan mulai dari proses evakuasi, mengadakan layanan sehat, bersih-bersih Kota hingga mendatangkan Dapur Keliling. Sejak Rabu, (10/10/2018) tim aktivis kemanusiaan melalui Psychoigical First Aid (PFA) memulihkan psikologi anak-anak korban gempa bumi dan Tsunami di Halaman Kantor RRI kota palu.

“Kami sangat terbantu dengan adanya tim psycholigical First Aid ( PFA ) kami mengharapkan untuk bisa mengembalikan keceriaan anak – anak pengungsi ini agar tidak mengingat kejadian apa yang sudah menimpa dirinya.” Ucapan Ruminah salah satu pengungsi yang berada di halaman kantor RRI Palu melalui siaran pers, Jumat (12/10/2018).

Diketahui korban meninggal sebanyak 2.010 jiwa, untuk korban luka-luka mencapai 10.679 jiwa, sementara 82.775 jiwa mengungsi di 147 titik dan 671 jiwa hilang.  Disisi lain 67.310 rumah rusak, 2.736 sekolah mengalami kerusakan hingga 20 fasilitas kesehatan mengalami rusak berat.

Dompet Dhuafa sejauh ini sudah mengupayakan 131 jenazah untuk dievakuasi dari 5 titik lokasi, 586 pasien dengan adanya layanan sehat dengan mencakup 9 titik lokasi, mendatangkan dapur keliling untuk dua titik, hingga mendirikan masjid darurat dan water purifier. Sejauh ini sudah 1.984 penerima manfaat bantuan yang Dompet Dhuafa salurkan.

Saat ini tim aktivis kemanusiaan melalui PFA mencoba untuk merangkul dan mendekatkan diri terutama kepada anak-anak yang cukup rentan terhadap dampak psikologis baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Banyak diantara mereka yang harus kehilangan orang tua atau bahkan menjadi korban dari robohnya puing-puing rumah mereka. Dengan tatapan mata yang kosong, anak-anak ini harus diselamatkan karena masa depan yang masih panjang serta membantu memulihkan semangat untuk hidup lebih ceria lagi.

“Tim yang diterjunkan adalah para aktivis kemanusiaan praktisi psikologi yang akan berfokus pada memberikan pertolongan psikologis (PFA) dan beberapa pendekatan untuk stabilisasi psikis korban. Proses selanjutnya adalah melibatkan warga lokal dengan pola kaderisasi, mengedukasi warga lokal untuk bisa mendampingi pelaksanaan program ini saat dibutuhkan di waktu selanjutnya ke dalam berbagai program healing seperti berlatih relaksasi dan lain-lain,” ujar Maya Sita Darlina, selaku Koordinator Psycological Dompet Dhuafa. (Red)