Beranda Opini Tidak Ada Kemenangan Seharga Nyawa

Tidak Ada Kemenangan Seharga Nyawa

Ilustrasi - foto istimewa google.com

-Bukankaah tidak ada kemenangan seharga nyawa manusia-

Dunia persepakbolaan tanah air kembali tercoreng. Hal itu dipicu oleh tindakkan tidak terpuji para supporter dan reaksi berlebihan aparat keamanan pada pertandingan antara Arema FC versus Persebaya yang berakhir dengan skor 2-3 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022) lalu.

Korban jiwa dalam persitiwa paling mematikan sepanjang sejarah pertandingan sepak bola di dunia itu menyentuh angka 174 orang. Data sementara kematian itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto dari BPBD Jawa Timur, Minggu (2/10/2022) siang.

Jika dicari akar persoalan tragedi Kanjuruhan kita akan menemukan kata fanatisme. Dalam segi apapun, fanatisme tentu berbahaya. Bukan hanya sepak bola, bahkan hingga dalam tindak laku menghayati agama.

Sikap fanatik yang ditunjukkan para supporter sebak bola baik di dalam maupun di luar negeri tentu bertolak belakang dengan nilai utama dalam olahraga: sportivitas. Psikolog Intan Erlita menyebut sikap fanatisme berlebihan para pendukung atau penggemar terhadap idolanya masuk kategori gangguan psikologis.

Ganguan psikologis yang semula bersifat individual berubah menjadi gangguan psikologis massal dalam fenome supporter sepak bola. Pemicunya rasa solidaritas salah kaprah dan mental kerumunan para pendukung.

Tragedi Kanjuruhan juga menunjukkan tidak profesionalnya aparat keamanan yang lupa dengan tugas pokok mereka datang ke stadion untuk memberi rasa aman. Alih-alih memberi rasa aman para pemain dan penonton, kepanikan menghadapi massa yang begitu banyak memicu aksi kontra produktif. Aparat menembakkan gas air mata kea rah penonton di bagian tribun yang tidak ikut turun ke lapangan.

Mereka lupa di tribun terdapat kaum perempuan dan anak-anak yang turut meramaikan pertandingan kesebelasa kesayangannya. Kepanikan memuncak di tengah udara yang tercemar gas airmata. Gerbang keluar penuh sesak manusia yang terinjak-injak dan mati keracunan gas air mata.

Menkopolhukam Mahfud MD menyebutkan 125 nyawa melayang dan 33 orang luka-luka dalam peristiwa Kanjuruhan. Kendati data tersebut masih simpang-siur, nyawa manusia tentu lebih berharga dari sekadar deret angka statistik belaka. Bukankaah tidak ada kemenangan seharga nyawa manusia. (You/Red)