Beranda Kesehatan Ternyata Selfie Bermanfaat untuk Deteksi Risiko Penyakit

Ternyata Selfie Bermanfaat untuk Deteksi Risiko Penyakit

507
0
Seorang wanita selfie di lokasi bencana Tsunami Selat Sunda - Foto istimewa

Berswafoto ternyata bisa bermanfaat. Menurut peneliti, selfie justru bisa membantu untuk mendeteksi tekanan darah dan risiko penyakit.

Sebuah teknologi baru yang bernama transderma optical imaging diklaim bisa menampilkan aliran darah di wajah, menunjukkan tekanan darah. Tekanan darah tinggi bisa menjadi tanda berbehaya dari serangan jantung atau stroke, namun kebanyakan tak mengetahuinya, sehingga alat ini dapat membantu.

“Kami menemukan, menggunakan ponsel genggam kita bisa secara akurat mengukur tekanan darah dalam 30 detik saja. Kami ingin menggunakan teknologi ini untuk membantu kami agar orang-orang mengerti akan tekanan darah mereka dan dapat memantaunya,” kata ketua peneliti, Kang Lee, dari University of Toronto, dikutip dari detik.com.

Lee tak bermaksud menjadikan teknologi ini sebagai pengganti alat pengukur tekanan darah atau ‘tensi’, namun hanya bertujuan untuk mempermudah mengukur tekanan darah di rumah. Sesimpel hanya ber-selfie.

Teknologi ini menggunakan cahaya untuk masuk ke dalam kulit dan juga sensor optik pada ponsel untuk menciptakan gambar pola aliran darah. Pola ini nantinya digunakan untuk memprediksi tekanan darah.

“Saat kamu melihat ada perubahan konsentrasi darah di beberapa bagian berbeda di wajahmu, kita bisa belajar banyak hal tentang fisiologi tubuhmu, seperti denyut jantung, kadar stres dan tekanan darah,” lanjutnya.

Ia mengaku menemukan kaitan antara aliran darah di wajah dengan tekanan darah secara tidak sengaja. Saat itu ia sedang menggunakan alat transdermal optical imaging untuk mencoba mengembangkan cara mengetahui apakah anak berbohong atau tidak melalui aliran darah ke wajah.

Untuk mengetes prediksi tekanan darah, Lee dan rekan-rekannya mencoba pada lebih dari 1.300 orang dewasa keturunan China dan Kanada dengan tekanan darah normal. Tiap peserta direkam wajahnya selama dua menit menggunakan iPhone dengan transdermal optical imaging software.

Hasilnya nyaris akurat, namun masih banyak masalah yang harus dipecahkan sebelum teknik ini dapat disebar luaskan, kata Lee. Salah satunya adalah, studi ini dibuat dalam lingkungan yang sangat dikendalikan.

Teknik ini rupanya masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan pakar sendiri. Ramakrishna Mukkamala, dosen teknik listrik dan komputer di Michigan State University meragukan kemampuan video wajah bisa memberikan informasi soal tekanan darah tinggi.

“Tak ada teori fisika di baliknya. (Jika bisa bekerja) banyak tantangan teknis yang harus ditanggulangi. Ini termasuk warna kulit, suhu ruangan dan pencahayaan yang berbeda. Dan juga sudut wajah yang berbeda. Dan hal-hal tersebut bukanlah hal yang mudah,” tandasnya.

(Red)