JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.
Langkah ini diambil menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu kepanikan pasar.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa bank sentral terus memantau ketat sentimen risk-off yang mulai menyelimuti pasar keuangan global pasca-serangan AS ke Iran.
“Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya,” ujar Erwin dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Guna meredam gejolak, BI memastikan akan tetap “hadir” di pasar. Strategi intervensi berlapis telah disiapkan, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, hingga transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
“BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga,” tambah Erwin.
Berdasarkan data Bloomberg pada pembukaan perdagangan Senin (2/3/2026), nilai tukar Rupiah terpantau melemah ke level Rp16.830 per dolar AS. Angka ini menyusut 0,26 persen dibandingkan penutupan Jumat (27/2/2026) di level Rp16.787. Sementara itu, kurs referensi Jisdor BI tercatat berada di posisi Rp16.779 per dolar AS.
Sumber : suara.com
