Beranda Peristiwa Tawa Anak Huntara Lebak di Tengah Ketidakpastian Pembangunan Huntap

Tawa Anak Huntara Lebak di Tengah Ketidakpastian Pembangunan Huntap

Beberapa anak penyintas banjir bandnag asik bermain lumpur di Huntara Cigobang Lebak. (Istimewa)

LEBAK – Hujan baru saja turun di Hunian Sementara (Huntara) Cigobang, Kabupaten Lebak. Jalan tanah berubah menjadi hamparan lumpur coklat yang licin.

Bagi sebagian orang dewasa, lumpur itu adalah keluhan yang tak pernah selesai. Namun bagi anak-anak korban banjir bandang yang telah enam tahun tinggal di Huntara, lumpur justru menjadi sumber tawa.

Di tengah tangis para orangtua yang lelah menanti kejelasan Hunian Tetap (Huntap), suara tawa anak-anak pecah di antara rintik hujan dan bau tanah basah.

Jalan yang seharusnya menjadi akses kendaraan mereka sulap menjadi arena bermain. Tanpa alas kaki, tanpa takut kotor, mereka berlari, tergelincir, lalu tertawa bersama.

Sesekali tubuh kecil itu terpeleset dan jatuh. Celana yang tadinya bersih berubah warna, bercampur lumpur dan air hujan. Namun tak ada keluhan. Yang ada hanya gelak tawa, seolah lumpur tak pernah berarti kesulitan.

“Lumpur bukan penghalang, tapi bagian dari permainan. Ini tempat bermain kami,” kata Chandra, salah seorang anak sambil menunjuk jalan berlumpur di depan tenda pengungsian, Sabtu (7/2/2026).

Bersama tiga temannya, Chandra bermain mobil-mobilan di atas lumpur. Kadang mereka tiduran, membiarkan tubuh kecilnya basah oleh air hujan.

Bukan karena mereka memilih tempat itu, melainkan karena itulah satu-satunya ruang bermain yang mereka miliki.

“Tidak ada ayunan, tidak ada tempat bermain. Jadi di sinilah kami bisa tertawa,” ujar Chandra polos.

Bagi anak-anak Huntara, jalan berlumpur bukan sekadar tanah basah. Jalan itu adalah taman bermain, lapangan imajiner, sekaligus pelarian dari realitas hidup di tenda pengungsian yang tak kunjung berakhir.

Muhamad Zaenudin, salah satu warga Huntara, berdiri tak jauh dari mereka. Matanya mengikuti setiap langkah anak-anak yang bermain, sesekali diselingi peringatan agar berhati-hati.

Baca Juga :  Jasad Bayi Ditemukan di Tempat Sampah Belakang Mess Pramugari Lion Air

“Bagi orang dewasa, lumpur ini keluhan. Tapi bagi anak-anak, ini hiburan gratis,” katanya lirih.

Ia mengaku, selama enam tahun tinggal di Huntara dengan tenda-tenda terpal dan jalan tanah merah, warga tak pernah benar-benar punya pilihan. Semua dijalani sebagai keseharian.

“Saya tidak melarang mereka bermain. Biarkan saja. Yang penting anak-anak bisa tersenyum,” ujarnya.

Bagi Zaenudin, tawa anak-anak itu menjadi satu-satunya penguat di tengah kelelahan hidup di pengungsian.

“Melihat mereka tersenyum, setidaknya bisa melupakan sejenak betapa sengsaranya hidup enam tahun di tenda pengungsian,” ucapnya, sambil terus memandang anak-anak yang masih tertawa di atas lumpur.

Di Huntara Cigobang, lumpur mungkin simbol keterbatasan. Namun di tangan anak-anak, lumpur berubah menjadi harapan kecil, bahwa di tengah ketidakpastian, tawa masih bisa tumbuh, dan kehidupan terus berjalan.

Penulis : Sandi Sudrajat
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd