SERANG — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten memproyeksikan anggaran bantuan sosial (bansos) 2027 turun menjadi sekitar Rp13 miliar. Penurunan anggaran itu ikut memangkas jumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Banten, Lukman mengatakan, Pemprov Banten masih membahas alokasi bansos dalam penyusunan APBD 2027. Namun, proyeksi sementara menunjukkan anggaran hanya sekitar Rp13 miliar, turun dari Rp16 miliar pada 2026.
“Kalau diproyeksikan untuk tahun depan itu Rp13 miliaran, karena tahun ini Rp16 miliar. Proyeksinya begitu, tapi kita belum bisa memastikan,” kata Lukman, Rabu (23/9/2026).
Penurunan anggaran membuat jumlah penerima bansos ikut menyusut. Pemprov Banten memperkirakan jumlah KPM turun dari sekitar 16.000 pada 2026 menjadi 13.000 KPM pada 2027.
“Iya ada pengurangan karena kemampuan keuangan daerah, jadi kita menyesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah juga,” ujarnya.
Lukman menegaskan, angka tersebut belum final karena pembahasan APBD 2027 masih berjalan. Pemprov Banten masih dapat mengubah alokasi anggaran maupun jumlah penerima sebelum penetapan APBD.
Tren penurunan bansos Banten terus terjadi dalam empat tahun terakhir. Pada 2024, Pemprov Banten mengalokasikan Rp32,5 miliar untuk lebih dari 65.000 KPM. Anggaran kemudian turun menjadi Rp18,8 miliar untuk 37.741 KPM pada 2025.
Pada 2026, anggaran kembali turun menjadi Rp16 miliar untuk sekitar 16.000 KPM. Jika proyeksi 2027 terealisasi, anggaran hanya mencapai Rp13 miliar untuk sekitar 13.000 KPM.
Selain keterbatasan fiskal, pemutakhiran data juga memengaruhi jumlah penerima. Sebagian warga keluar dari kelompok Desil 1 sampai Desil 5 sehingga tidak lagi masuk sasaran utama bansos.
“Otomatis berkurang penerimanya juga, karena itu tadi keterbatasan atau kemampuan anggaran, ditambah ada juga yang keluar dari Desil 1 sampai 5,” kata Lukman.
Pemutakhiran data juga mengubah peta kemiskinan Banten. Dinsos Banten kini mencatat Tangerang Raya sebagai wilayah dengan konsentrasi warga miskin terbanyak.
“Terbanyak itu di Tangerang Raya. Kalau dulu kan di Kabupaten Serang, Pandeglang, dan Lebak. Setelah didata ulang, Tangerang paling banyak,” ujarnya.
Penulis : Audindra Kusuma
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
