TANGERANG – Seorang pelanggan Perumda Tirta Benteng (TB) di Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, mengeluhkan lonjakan tagihan air yang mencapai jutaan rupiah. Merasa tidak mendapat penyelesaian dari pihak perusahaan, pelanggan bernama Pahrul Roji berencana melaporkan persoalan tersebut ke Ombudsman Republik Indonesia pada Senin (2/11/2026).
Pahrul mengaku sudah beberapa kali menyampaikan keluhan kepada Perumda Tirta Benteng. Namun, menurut dia, pengaduan tersebut belum menghasilkan solusi yang memuaskan.
Ia menilai pihak perusahaan cenderung menyalahkan pelanggan dengan alasan kemungkinan kebocoran pada instalasi pipa di dalam rumah.
Berdasarkan catatan tagihan yang dimilikinya, pembayaran air Pahrul terus meningkat sepanjang 2026. Pada Januari, tagihan tercatat sebesar Rp531.500. Jumlah tersebut kemudian naik hingga mencapai Rp1.162.400 pada September.
Lonjakan paling besar terjadi pada Oktober 2026. Tagihan air yang harus dibayarnya mencapai Rp2.379.500 atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya.
Pahrul mempertanyakan kenaikan tagihan tersebut karena tidak menemukan kebocoran pada instalasi air di rumahnya. Ia mengaku sudah memeriksa jaringan perpipaan secara mandiri.
“PDAM selalu menyalahkan pelanggan dengan dalih ada kebocoran di instalasi pemakaian. Tapi tidak diberikan solusinya sebagai bentuk pelayanan kepada pelanggan,” ujar Pahrul, Senin (2/11/2026).
Ia juga mempertanyakan pola kenaikan tagihan yang terus terjadi setiap bulan. Menurut dia, jika penyebabnya kebocoran, pihak perusahaan seharusnya melakukan pemeriksaan langsung untuk memastikan sumber masalah.
“Kalau memang kebocoran, masa setiap bulan naik terus. Bulan ini bocor, bulan selanjutnya pasti sama jumlah tagihannya. Kenapa berbeda dan malah terus naik,” katanya.
Pahrul berharap Perumda Tirta Benteng tidak hanya meminta pelanggan membayar tagihan, tetapi juga memberikan pelayanan dan penyelesaian ketika terjadi persoalan.
Ia menilai perusahaan daerah tersebut perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap penggunaan air dan memastikan penyebab lonjakan tagihan.
“PDAM jangan cuma memikirkan pelanggan bayar saja, sementara pelayanan cuma kasih air,” keluhnya.
Karena belum mendapatkan penyelesaian, Pahrul berencana membawa persoalan tersebut ke Ombudsman. Ia berharap lembaga pengawas pelayanan publik itu dapat membantu menindaklanjuti keluhannya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi, Humas Perumda Tirta Benteng, Yayan, belum memberikan tanggapan terkait keluhan pelanggan tersebut.
Penulis: Mg-Dwi Muksin Yulianto
Editor: Wahyudin
