Beranda Opini Taat Syariat Sejak Dini Bikin Pede Sampai Gede

Taat Syariat Sejak Dini Bikin Pede Sampai Gede

892
0
Elis Fitriani, Pendidik di Pesantren dan Aktivis Banck to Muslim Identity Banten

Oleh: Elis Fitriani, Pendidik di Pesantren dan Aktivis Banck to Muslim Identity Banten

Memakai jilbab merupakan kewajiban bagi seorang muslimah yang sudah baligh, wajib artinya berpahala saat dikerjakan dan berdosa saat dilanggar, Jilbab merupakan Identitas seorang muslimah yang tidak bisa ditawar apalagi dilarang tidak peduli apakah ia seorang yang sudah baik agamanya maupun belum, tetap hukumnya wajib.

Jika dulu di Indonesia yang menggunakan jilbab masih jarang ditemukan contoh kecilnya di sekolah-sekolah yang pada umunya memakai rok dan baju serta lengan pendek, lambat laun jilbab mulai digemari para wanita muslimah meskipun belum seluruhnya menyadari bahwa menutup aurat secara sempurna adalah kewajiban namun sudah nyaman dipakai meskipun masih ada yang memakainya hanya pada saat bepergian.



26 September lalu, warganet muslim khususnya dikagetkan dengan konten DW Indonesia yang berisi video dengan bubuhan caption “mereka menggunakan atau memakai sesuatu tetapi belum faham betul konsekuensi dari pemakaiannya itu” tak hanya sampai disitu tambahnya kemudian “permasalahannya apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya, kemudian agak punya pandangan yang mungkin berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan, apakah dengan dia pakaian begitu berarti dia punya batasan tertentu bergaul.”

DW Muslimpun mewawancari feminis muslim seolah-oleh untuk mempertegas bahwa isi konten yang dibuatnya memang benar, Darol Mahmada, “wajar-wajar saja seorang ibu atau guru mengharuskan anak memakai hijab sejak kecil tetapi kekhawatiran saya sebenarnya lebih kepada membawa pola pikir si anak itu menjadi eksklusif karena dari sejak kecil dia ditanamkan untuk misalnya “berbeda”dengan lainnya,” tutur darol.
Netizenpun merasa geram dengan pernyataan akun DW Indonesia yang dinilai sudah mengusik ranah aqidah kaum muslim bahkan anggota DPR yang juga wakil ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon ikut menanggapi “Liputan ini menunjukkan sentimen Islamphobia dan agak memalukan untuk kelas @dwnews tuturnya melalui akun twiter @fadlizon.

Pernyataan ini jelas menuai kontra dari kalangan muslim karena sudah merendahkan aturan islam yang hukumnya wajib, kewajiban dalam menjalankan syariat harus dimulai sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan seorang ibu mendidk calon bayi dengan membaca ayat suci Al-Qur’an, lahir diperkenalkan dengan tuhannya (diadzankan), berbagai syariat Islam diajarkan dan dibiasakan, termasuk memakaikan jilbab sejak masih kecil. Maka tidak seharusnya penyataan dalam konten tersebut muncul karena bertentangan dengan ajaran Islam sendiri.

Indonesia adalah negara yang dihuni mayoritas muslim, namun ternyata negara mayoritas muslim tidak menampakkan kehidupan Islam di dalam beraktivitas dan gaya hidup, meskipun negara Indonesia memiliki aturan ternyata kehidupan masyarakat cenderung bebas/liberal, masuknya berbagai budaya terutama barat mudah diadopsi terutama kalangan millenial, anak muda di negeri tercinta dengan bebas bergaya hidup ala barat tanpa ada batasan, bahkan lebih bangga terhadap budaya barat daripada menunjukkan identitasnya sebagai muslim.

Liberalisme telah mengikis akidah para kaum muslim baik disadari maupun tidak, mereka gencar mempromosikan dengan berbagai dalih atas nama kebebasan, bebas berfikir, berpendapat, berbuat, berpakaian bahkan sang Pencipta (Allah SWT) seolah tidak berhak mengatur hidupnya. aturan sekuler telah memberikan pintu lebar kepada liberalisme untuk berkembang biak di negeri yang bernorma dan beragama, kebebasan telah merajalela di setiap aspek kehidupan, agama telah dipisahkan dalam kehidupan.

Padahal, Islam adalah agama kaffah (sempurna) mengatur seluruh kehidupan manusia, ketika adanya pemisahan antara agama dan kehidupan (liberalisme) maka sudah tentu akan terjadi banyak kerusakan, baik moral setiap individu maupun kerusakan di dalam mengelola negara
Tentu saja pemahaman liberalisme akan mudah diterima oleh generasi jika kaum muslim sendiri tidak memahami apa dan bagaimana islam mengatur kehidupan, pemahaman yang minim, aturan sekuler, lingkungan liberal, lengkap sudah komposisi untuk merusak generasi muslim.

Seorang muslim tidak boleh bepangku tangan, aturan islam harus menjadi gaya hidup, maka harus ada perjuangan dalam mengembalikan kaum muslim kepada identitas keislamannya, dalam hal ini aturan menyeluruh (negara) berperan penting dalam mengembalikan Muslim kepada identitasnya.

(***)