Beranda Budaya Surat Pertama Sultan Banten untuk Raja Inggris: Jejak Diplomasi dari Awal Abad...

Surat Pertama Sultan Banten untuk Raja Inggris: Jejak Diplomasi dari Awal Abad ke-17

Repro surat Sultan Banten untuk Raja James I. (IST)

DI SEBUAH ruang arsip di London, tersimpan selembar kertas berusia lebih dari empat abad yang menjadi saksi awal hubungan diplomatik antara Kesultanan Banten dan Kerajaan Inggris. Dokumen itu kini berada di Public Record Office dengan nomor PRO SP 102/4/8. Di balik lembaran sederhana tersebut tersimpan kisah tentang diplomasi, perdagangan, dan kebesaran Kesultanan Banten pada awal abad ke-17.

Surat itu merupakan surat resmi Banten tertua yang hingga kini berhasil ditemukan dan diteliti. Arsip tersebut disimpan bersama dokumen-dokumen negara lain dalam bundel others state paper foreign classes. Menurut Foster (1943), surat ini dibawa ke Inggris oleh Kapten Henry Middleton dan diserahkan kepada Raja James I pada 25 Mei 1606.

Secara fisik, surat itu berukuran 31 x 28,5 sentimeter. Teksnya ditulis dalam sembilan larik menggunakan tinta hitam di atas kertas Eropa yang memiliki cap air bergambar bunga lili di dalam perisai bermahkota. Berdasarkan penelitian Heawood (1960), jenis kertas seperti ini memang lazim digunakan di Inggris pada awal abad ke-17.

Namun, yang paling menarik perhatian bukan hanya usianya, melainkan cap resmi Kesultanan Banten yang menghiasi sisi kanan atas surat. Cap berbentuk lingkaran berdiameter 48 milimeter itu memuat kalimat syahadat dalam aksara Arab: La ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Inilah cap kesultanan paling awal yang diketahui pernah digunakan oleh Banten sebagai stempel resmi.

Dalam tradisi persuratan Islam sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Terasul, posisi cap yang diletakkan di samping teks menandakan bahwa pengirim maupun penerima surat sama-sama berkedudukan sebagai raja. Di atas cap Banten kemudian ditambahkan cap Kerajaan Inggris bertuliskan Her Majesty’s State Paper Office, sebagai penanda bahwa dokumen tersebut telah menjadi bagian dari arsip kerajaan Inggris.

Baca Juga :  Sultan Banten Minta Pelaku Penembakan Umat Muslim di Selandia Baru Dihukum Berat

Seluruh isi surat ditulis dalam bahasa dan menggunakan huruf Arab  berharakat. Pada bagian tengah atas terdapat kepala surat bertuliskan Ya Fattah—”Wahai Zat Yang Maha Membuka”. Menurut Nasir Abdullah yang dikutip Annabel Teh Gallop (1994), penggunaan kepala surat seperti ini menunjukkan bahwa pengirimnya adalah sosok dengan kedudukan politik yang sangat tinggi.

Surat tersebut memang tidak mencantumkan tanggal penulisan. Namun, berdasarkan konteks sejarahnya, para peneliti memperkirakan surat itu diterima Henry Middleton pada 4 Oktober 1605, sesaat sebelum ia meninggalkan Banten menuju Inggris pada 6 Oktober tahun yang sama.

Perjalanan Middleton ke Banten merupakan pelayaran keduanya ke Kepulauan Melayu. Sebelum singgah di Banten, ia bersama saudaranya, David Middleton, telah mengunjungi Ternate, Tidore, Ambon, dan Banda di Maluku. Dalam perjalanan pulang ke Inggris, ia membawa surat resmi dari Sultan Tidore, Sultan Ternate, dan Sultan Banten.

Isi surat Sultan Banten kepada Raja James I memperlihatkan suasana persahabatan yang hangat. Suktan menyampaikan ucapan selamat atas penobatan James I sebagai Raja Inggris. Ia juga mengucapkan terima kasih atas hadiah yang dikirimkan melalui Henry Middleton. Sebagai balasan, Raja Banten mengirimkan dua buah faizar.

Berikut adalah kutipan isi suratnya :

“Surat cinta Sultan Banten kepada Raja Inggris, Skotlandia, Prancis, dan Irlandia. Semoga Allah memanjangkan umurnya dan menambahkan kemerdekaan kepada setiap negeri dan rakyatnya yang berada di bawah kekuasaan Raja Inggris. Selanjutnya, Tuan mengutus Jenderal Milton, dan ia telah datang kepada kami dengan selamat. Kami mendengar bahwa Tuan telah menjadi Raja Inggris. Dengan senang hati kami mendengarnya. Sekarang Negeri Inggris dan Banten telah bersatu. Selanjutnya, Tuan memberi hadiah kepada kami dan kami menerima pemberian itu karena rasa cinta Tuan kepada kami. Sebagai balasan kami mengirimkan hadiah dua faizar (?), timbangannya seberat 14 binatang ternak, satu faizar sebanding dengan tiga ekor binatang ternak berkaki empat. Salam dengan kebaikan.”

Ketika surat tersebut ditulis, pemerintahan Banten berada di bawah perwalian Pangeran Abdul Qadir yang masih belum dewasa. Masa perwalian berlangsung sejak 1596 hingga 1624. Setelah dewasa, ia memerintah secara penuh hingga 1651 sehingga keseluruhan masa pemerintahannya mencapai sekitar 55 tahun, menjadikannya penguasa dengan masa pemerintahan terlama dalam sejarah Kesultanan Banten.

Baca Juga :  Sejarah Hari Bahasa Ibu Internasional yang Diperingati Setiap 21 Februari

Pada 1638, Abdul Qadir resmi menyandang gelar Sultan dengan nama Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir. Ia diyakini sebagai penguasa Banten pertama yang menggunakan gelar resmi “Sultan”, bahkan kemungkinan menjadi tokoh paling awal di Pulau Jawa yang menyandang gelar tersebut. Bukti mengenai penggunaan gelar itu tampak pada cap resmi yang digunakan oleh cucunya, Sultan Abul Fath Abdul Fattah atau Sultan Ageng Tirtayasa.

Hubungan diplomatik Banten dengan Inggris terus berlanjut. Pada 1629, Pangeran Abdul Qadir kembali mengirim surat kepada Raja Charles I. Berbeda dengan surat tahun 1605 yang menggunakan bahasa Arab, surat kedua tersebut ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Jawi. Dokumen itu tercatat sebagai surat resmi Banten, bahkan diduga menjadi surat resmi paling awal dari Pulau Jawa yang menggunakan bahasa Melayu.

Ketika wafat, Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir memperoleh gelar anumerta Sultan Agung. Gelar yang sama kemudian juga disematkan kepada cucunya, Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam sejarah Kesultanan Banten, hanya dua penguasa inilah yang menerima gelar kehormatan tersebut.

Sultan Abul Mafakhir dimakamkan di kawasan Kenari, sekitar lima kilometer di selatan bekas Keraton Surosowan. Karena itulah masyarakat kemudian mengenalnya pula sebagai Sultan Ageng Kenari. Makamnya menggunakan batu nisan bertipologi Aceh Darussalam, sebagaimana lazim digunakan kalangan bangsawan Banten. Hal ini menjadi salah satu petunjuk kuat bahwa hubungan antara Kesultanan Aceh dan Kesultanan Banten berkembang sangat erat pada masa pemerintahannya. (dikutip dari berbagai sumber)