Beranda Sosial dan Budaya Surabi, Kue Tradisional yang Masih Eksis Hingga Sekarang

Surabi, Kue Tradisional yang Masih Eksis Hingga Sekarang

Pedagang surabi. (Memed/bantennews)

PANDEGLANG – Kue Surabi merupakan salah satu makanan atau jajanan tradisional yang masih tetap bertahan hingga sekarang. Meski keberadaan mulai sulit ditemui, namun di beberapa daerah masih ada yang menjajakan makanan ini.

Siti Rohanah merupakan salah seorang pedagang sekaligus pembuat kue Surabi asal Kampung Maja Tengah RT 002 RW 002, Kelurahan Sukaratu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang yang masih tetap memproduksi makanan tradisional ini.

Ibu yang akrab disapa Ma Oang ini mengakui memang saat ini mulai banyak bermunculan surabi dengan berbagai varian rasa yang dikembangkan oleh anak-anak zaman sekarang, namun untuk kue surabi yang masih mempertahankan rasa original hanya tinggal beberapa saja.

“Banyak sih yang buat surabi rasa macam-macam kaya surabi coklat, keju dan yang lain, tapi kalau saya hanya membuat surabi yang rasanya kaya dulu (original) karena pelanggan saya engga mau rasanya yang beda,” tutur Ma Oang di sela-sela pembuatan Surabi, Sabtu (28/8/2021).

Kata dia, untuk bahan dan pembuatan kue surabi tergolong cukup mudah serta gampang didapat karena hanya membutuhkan tepung beras dan santan kelapa saja.

“Bahannya cuman tepung beras sama santan kelapa. (Proses pembuatannya) cukup mudah, tepung beras ditambah sedikit air terus tambah santan kelapa dan tinggal dipanggang di cetakan,” ungkapnya.

Selain itu, kue surabi juga tidak membutuhkan modal besar karena hanya dengan uang Rp100 ribu sudah bisa membuat kue tersebut. Namun untuk mendapatkan rasa yang original dan enak membutuhkan keterampilan dan pengalaman.

“Kalau (tepung) beras 5 liter santan kelapanya 4 butir biar enak. Yang belum terbiasa memang suka gagal kaya surabinya keras terus enggak mengembang jadinya kaga empuk, kalau saya sudah cukup lama bikin kue ini jadi luarnya renyah tapi dalamnya itu empuk kata orang-orang,” tuturnya.

Ia melanjutkan, dari 5 liter tepung beras akan mendapatkan hasil sekitar 60 kue surabi. Ia mengaku kue surabi yang ia buat hanya dijual seharga Rp3 ribu karena menyesuaikan dengan keadaan ekonomi pembeli di perkampungan.

Permasalahan yang sering ia hadap dalam pembuatan kue surabi hanya terletak pada modal, sebab untuk pelanggan dirinya sudah mempunyai pelanggan tetap yang setiap waktu sudah menunggu hasil olahannya ini.

“Cuman modal sih pak kalau yang beli saya punya pelanggan, sebab uang jualannya suka kepakai sama saya buat belanja kebutuhan makan,” ucap Ma Oang sambil tersenyum. (Med/Red)