LEBAK – Matahari belum terlalu tinggi ketika Yuliana mengangkat dua jeriken kosong dari teras rumahnya. Langkahnya mengarah ke sungai yang berjarak sekitar dua kilometer dari permukiman.
Perjalanan itu kini menjadi rutinitas yang tak bisa ia hindari sejak musim kemarau mengeringkan sumur-sumur warga di Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak.
Di tepi sungai, ember, jeriken, dan bak plastik berjejer. Warga bergantian mengambil air yang keruh kecokelatan.
Mereka datang bukan untuk mencari ikan atau sekadar menikmati aliran sungai, melainkan demi memenuhi kebutuhan paling dasar, seperti mandi, mencuci pakaian, dan membersihkan peralatan rumah tangga.
Fenomena tersebut menjadi potret krisis air bersih yang kini melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lebak. Dampak El Nino memperparah musim kemarau hingga menyebabkan sedikitnya 12 kecamatan terdampak kekeringan.
Dari jumlah tersebut, tujuh kecamatan mengalami kondisi paling parah. Mata air dan sumur-sumur warga mulai mengering.
Bagi Yuliana, air sungai bukan lagi pilihan, melainkan satu-satunya harapan yang tersisa.
“Air sungai memang tidak sebersih air sumur, tapi mau bagaimana lagi. Sumur di rumah sudah tidak ada airnya,” ujar Yuliana, Rabu (5/8/2026).
Setiap hari ia harus berjalan pulang pergi sejauh sekitar dua kilometer. Jeriken yang semula kosong berubah menjadi beban berat di pundaknya. Air yang dibawa pulang digunakan untuk mencuci pakaian, membersihkan peralatan dapur, hingga mandi bersama anggota keluarga.
Perjalanan itu harus diulang hampir setiap hari. Jika tidak, aktivitas rumah tangga akan lumpuh.
“Terpaksa harus ke sungai. Kalau tidak, kami tidak bisa mencuci baju dan mandi. Air yang kami bawa pulang juga dipakai untuk mencuci perabotan rumah,” katanya.
Kemarau yang berkepanjangan tidak hanya mengubah kebiasaan warga, tetapi juga menambah beban hidup mereka. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja atau mengurus keluarga kini habis di perjalanan menuju sungai.
Di tengah kondisi tersebut, warga berharap pemerintah segera mengirim bantuan air bersih. Mereka khawatir kekeringan akan terus meluas apabila hujan tidak kunjung turun dalam beberapa pekan ke depan.
“Kami berharap pemerintah atau siapa pun bisa membantu menyediakan air bersih. Setidaknya kebutuhan sehari-hari kami bisa terpenuhi,” harap Yuliana.
Bagi warga Sajira, kemarau tahun ini bukan sekadar persoalan cuaca. Musim kering telah mengubah sungai menjadi sumber kehidupan terakhir, sementara setiap tetes air yang mereka bawa pulang menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Penulis: Sandi Sudrajat
Editor: Tb Moch. Ibnu Rushd
