SERANG – Malam itu, cahaya lampu Stadion Maulana Yusuf, Ciceri, Kota Serang, berkilauan, menarik ribuan pengunjung ke Serang Fair 2025. Namun, di luar pagar megahnya, puluhan pedagang UMKM berdiri berdesakan. Bukan untuk menikmati hiburan, melainkan untuk menyuarakan isi hati mereka. Dingin malam tak menyurutkan semangat mereka. Dengan spanduk sederhana dan suara lantang, mereka meneriakkan tuntutan:
“Kami ingin makan!” teriak seorang pedagang perempuan, suaranya bergetar namun tegas. Terikan itu disambut lantang oleh puluhan rekan sejawatnya.
Bagi para pedagang, Serang Fair adalah momen setahun sekali untuk meraup rezeki lebih. “Saya sudah siap-siap dari dua minggu lalu. Harapannya bisa jualan di dalam stadion, ramai, laku banyak,” kata Asep, pedagang jajanan tradisional. “Tapi ternyata kami disuruh tunggu giliran, jadi cuma bisa lihat dari luar.”
Rasa kecewa makin dalam karena mereka sudah menyiapkan modal, stok dagangan, dan tenaga, namun kesempatan itu belum juga datang.
Menanggapi protes ini, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Serang, Wahyu Nurjamil, menegaskan bahwa semua pedagang tetap akan diberi kesempatan berjualan, namun dengan sistem bergiliran.
“Mereka sudah diakomodir. Paguyuban pedagang yang mengatur jadwal sesuai kapasitas ruang di area Serang Fair,” ujar Wahyu, Sabtu (9/8/2025).
Meski belum semua keinginan terpenuhi, para pedagang berharap solusi ini benar-benar berjalan adil. “Yang penting bisa dapat giliran, bisa bawa pulang uang untuk anak-anak,” kata Yanti, sambil mengelus dagangan yang tersisa.
Bagi mereka, Serang Fair bukan sekadar pesta rakyat, melainkan panggung perjuangan. Di balik sorak-sorai pengunjung dan gemerlap lampu, ada puluhan perut yang menunggu untuk terisi, dan puluhan hati yang berharap rezeki datang dari keramaian malam itu.
Penulis: Ade Faturohman
Editor: Tb Moch. Ibnu Rushd
