KAB. SERANG – Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) masih berada pada Level III atau Siaga. Pemerintah mengingatkan masyarakat, wisatawan, dan nelayan agar tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, termasuk isu erupsi yang dikaitkan dengan potensi tsunami.
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), periode pengamatan Rabu (8/7/2026) pukul 06.00-12.00 WIB mencatat aktivitas vulkanik masih berada pada Level III (Siaga).
Petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Deny Mardiono, melaporkan gunung terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis sampai tebal dan tinggi sekitar 10 hingga 250 meter dari puncak.
Selama enam jam pengamatan, PVMBG mencatat lima kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 35-50 milimeter dan durasi 13-42 detik. Selain itu, petugas juga merekam satu kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 2-28 milimeter.
“PVMBG meminta masyarakat tidak memasuki kawasan dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, aliran lava, lontaran material pijar, dan hujan abu jika aktivitas vulkanik meningkat,” terang Deny melalui rilis resmi.
PVMBG juga menegaskan masyarakat di pesisir Provinsi Banten dan Lampung tidak perlu panik terhadap isu yang menyebut erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami.
“Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami. Tetap beraktivitas seperti biasa dengan mengikuti arahan BPBD setempat,” tulis PVMBG dalam rekomendasinya.
Sementara, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo) Kabupaten Serang, Surtaman, mengimbau masyarakat agar menyaring setiap informasi yang beredar terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau maupun informasi kebencanaan lainnya.
Ia meminta masyarakat memeriksa sumber informasi sebelum menyebarkannya dan mengutamakan informasi dari lembaga resmi.
“Cek dulu sumber informasinya untuk memastikan apakah informasi itu benar atau hoaks. Selalu rujuk website resmi lembaga terkait dan jangan langsung membagikan informasi sebelum melakukan klarifikasi,” kata Surtaman.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang berada di perairan Selat Sunda dan secara administratif masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan.
Meski begitu, PVMBG melakukan pemantauan melalui dua pos pengamatan, yakni Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.
Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah panjang aktivitas vulkanik. Erupsi besar Krakatau pada 1883 memicu tsunami dahsyat, sementara longsoran tubuh Gunung Anak Krakatau pada 22 Desember 2018 juga menyebabkan tsunami di Selat Sunda.
Hingga kini, gunung tersebut masih menunjukkan aktivitas magmatik berenergi rendah sehingga statusnya tetap berada pada Level III atau Siaga.
Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah
