Beranda Budaya Stasiun Rangkasbitung, Bangunan Tua yang Menyimpan Jejak Perjalanan Lebak

Stasiun Rangkasbitung, Bangunan Tua yang Menyimpan Jejak Perjalanan Lebak

Stasiun KA Rangkasbitung. (Mg-Aldo Marantika/bantennews)

LEBAK – Di samping bangunan Stasiun KRL Rangkasbitung yang selalu dipadati penumpang, berdiri sebuah bangunan tua yang tetap kokoh meski usianya telah melampaui satu abad.

Cat temboknya mulai mengelupas, tetapi dinding-dindingnya masih menyimpan jejak panjang sejarah transportasi dan perekonomian Kabupaten Lebak.

Stasiun Rangkasbitung mulai beroperasi setelah Staatsspoorwegen membangunnya pada 1899. Selama 127 tahun, bangunan ini menjadi bagian penting perkembangan wilayah Lebak, terutama saat jalur kereta menjadi urat nadi distribusi hasil bumi menuju Batavia.

Pada masa itu, kereta mengangkut kopi, karet, hingga kayu jati dari Lebak Selatan. Rangkasbitung pun berkembang menjadi stasiun transit terbesar di wilayah Banten Selatan.

“Peron ini dulu tidak pernah sepi. Bau kopi bercampur dengan minyak lokomotif, sementara penumpang terus datang dan pergi,” kata Ujang, salah seorang penumpang kereta, Senin (20/7/2026).

Dari Dua Hari Menjadi Tiga Jam

Ujang mengenang perubahan besar yang dibawa jalur kereta api bagi masyarakat Lebak. Sebelum kereta hadir, warga membutuhkan waktu hingga dua hari menggunakan delman untuk mencapai Batavia.

Setelah jalur kereta beroperasi, perjalanan yang sebelumnya menguras tenaga itu berubah drastis. Masyarakat hanya memerlukan sekitar tiga jam untuk tiba di Jakarta.

“Dulu kalau mau ke Jakarta harus naik delman selama dua hari. Setelah ada kereta, cukup tiga jam sudah sampai,” ujarnya.

Arsitektur yang Bertahan Melawan Zaman

Bangunan Stasiun Rangkasbitung memiliki ciri khas yang berbeda dari banyak stasiun modern. Langit-langit setinggi sekitar lima meter membuat ruangan tetap sejuk. Jendela-jendela besar dan ventilasi yang tersebar di berbagai sisi membantu sirkulasi udara.

Arsitek Belanda merancang bangunan itu menggunakan gaya Indische Empire, arsitektur kolonial yang menyesuaikan diri dengan iklim tropis Hindia Belanda.

Baca Juga :  Gali Identitas Lokal, Bantenologi Luncurkan Buku “Urang Banten": Sejarah, Islam, dan Identitas

Tiang-tiang kayu ulin masih berdiri kokoh hingga sekarang. Lantai ubin asli juga tetap terawat. Di salah satu sudut bangunan, telegraf tua masih menjadi saksi perkembangan teknologi komunikasi pada masanya.

Berhenti Melayani Kereta, Tetap Menyimpan Sejarah

Sejak layanan KRL Commuter Line mencapai Rangkasbitung pada 2017, aktivitas operasional berpindah ke gedung stasiun yang baru. Bangunan lama kini menjadi gudang arsip PT KAI.

Meski tidak lagi melayani penumpang, bangunan itu tetap menyimpan cerita perjalanan Kabupaten Lebak.

“Bagi saya, stasiun ini memiliki banyak cerita dan sejarah. Kalau Multatuli dikenal lewat tulisannya, stasiun ini menyimpan sejarah melalui roda kereta dan rel,” kata Ujang.

Menurutnya, Stasiun Rangkasbitung pernah menggerakkan roda ekonomi daerah dengan mengangkut hasil perkebunan yang menghidupi ribuan petani.

Kini, bangunan itu memang tidak lagi mengangkut kopi atau penumpang. Namun, nilainya sebagai saksi sejarah tetap hidup.

“Anak cucu harus tahu kalau kemajuan hari ini berawal dari stasiun tua ini. Sayang sekali kalau bangunan bersejarah ini hanya menjadi gudang,” pungkasnya.

Penulis : Mg-Aldo Marantika
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd