CILEGON – Pencegahan banjir yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon dengan melakukan penanaman pohon di sejumlah wilayah mendapat sorotan tajam dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta.
Diketahui, kegiatan yang melibatkan seluruh OPD dan BUMD Cilegon itu dilakukan di empat titik, yakni di wilayah Kelurahan Bulakan, Bagendung, Citangkil, dan Kepuh pada Kamis (15/1/2026) lalu.
“Kami katakan penanaman pohon itu baik untuk jangka panjang. Namun, banyak hal yang perlu diperhatikan, selagi tidak menyentuh akar masalahnya jadi paradoks juga,” kata Staff Program Walhi Jakarta, Nur Cholis Hasan, kepada BantenNews.co.id, Senin (19/1/2026).
Cholis menilai, meski penanaman pohon itu baik untuk jangka panjang, namun Pemkot Cilegon juga harus melihat landskap ekosistem sebelumnya. Terutama pohon endemik yang sebelumnya menjadi fungsi ekologis setempat.
“Selama alih fungsi lahan masih dilanggengkan, penanaman pohon hanya sebatas solusi tambal sulam saja. Harusnya, pemulihan kawasan itu dibarengi juga dengan tindakan pencegahan kerusakan lainnya,” ujarnya.
Dalam kaca mata Walhi Jakarta, persoalan banjir di Cilegon itu didominasi oleh kerusakan lingkungan. Maka, Cholis kembali meminta kepada Pemkot Cilegon untuk benar-benar tegas terhadap segala bentuk aktivitas perusakan lingkungan.
“Persoalan tambang yang merusak resapan air di hulu, bukan soal administrasi yang ilegal diminta urus izin, malah harusnya ada sanksi bahkan sampai pidana jika kita hitung kerugian yang ditimbulkan. Poinnya di kerusakan ekologisnya bukan administrasi,” tutupnya.
Meski demikian, Cholis bersama masyarakat Kota Cilegon menegaskan masih menunggu kesimpulan dari pemerintah yang menjadi faktor utama penyebab banjir ini terjadi dan langkah konkret sebagai bentuk mitigasi bencana ke depan.
Penulis : Maulana
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
