SERANG – Komisi V DPRD Banten menyoroti peristiwa mobil terguling yang dikendarai pelajar SMAN 1 Kota Serang hingga sempat menjadi perhatian publik.
Ketua Komisi V DPRD Banten, Ananda Trianh Salichan, menilai insiden ini menjadi pengingat penting bagi orang tua dalam memberi fasilitas kendaraan kepada anak.
Menurut Ananda, peristiwa itu menjadi pengingat pentingnya peran orang tua dalam mengontrol pemberian fasilitas kepada anak yang masih di bawah umur.
“Kalau ini lebih pandangan saya pribadi ya, bukan pandangan Komisi. Ini lebih ke arah bagaimana orang tua lebih bijak dalam memberi fasilitas kepada anaknya dan juga tentunya dari dokumen-dokumennya apakah si anak sudah memiliki SIM atau belum,” ujarnya.
Menurut Ananda, pemberian kendaraan sering kali dilakukan atas dasar kasih sayang tanpa mempertimbangkan kesiapan anak.
“Orang tua juga jangan menormalisasikan memberi segala hal atas dasar kasih sayang. Jadi anak-anak juga harus diajarkan bagaimana berperilaku yang pantas di umurnya,” ucapnya.
Namun, Ananda juga menilai, penggunaan kendaraan oleh siswa pada dasarnya dapat dibenarkan selama memenuhi syarat legalitas.
“Kalau pandangan saya pribadi, selama anak itu sudah punya SIM dan layak mengemudi sah-sah saja. Tapi kembali lagi, ketika anak tersebut mengemudikan kendaraan maka orangtuanya harus menerima risiko, amit-amit ada suatu hal yang tidak diinginkan terjadi, karena itu sudah risiko,” katanya.
Diketahui sebelumnya, kecelakaan yang melibatkan dua pelajar berinisial HRA (16) dan DZA (16) menyita perhatian publik setelah video mereka viral di media sosial (medsos). Mobil yang mereka kendarai terbalik di Jalan Raya KH Sochari, Kelurahan Cipare, Kota Serang, Senin (17/11/2025),
Penyebabnya diduga akibat kepanikan setelah digedor dan diteriaki sejumlah pelajar lain. Video yang beredar memperlihatkan mobil yang dikendarai keduanya melaju tidak stabil sebelum akhirnya terguling.
Rekaman itu juga menunjukkan adanya kerumunan pelajar lain yang disebut-sebut mengejar dan menggedor mobil, diduga karena isu dugaan tindakan mesum di dalam kendaraan.
Kepala Unit Gakkum Satlantas Polresta Serang Kota, Ipda Dedi Yuanto, membenarkan insiden tersebut. Ia menyebut kecelakaan terjadi karena kurangnya konsentrasi pengemudi yang masih di bawah umur.
“Iya benar, mas, itu pelajar,” kata Dedi, Selasa (18/11/2025) kemarin.
Menurutnya, mobil Honda BR-V yang dikendarai HRA melaju dari arah Cijawa menuju Cipare. Sesampainya di lokasi, pengemudi hilang konsentrasi dan menabrak bagian belakang kanan mobil Toyota Calya yang berada di depannya hingga minibus tersebut hilang kendali dan terguling.
“Kurang konsentrasi, lalu menabrak bagian belakang kendaraan di depannya, kemudian mobil yang dikemudikan pelajar itu terguling,” ujarnya.
Namun, Dedi tidak menampik adanya informasi yang menyebut kedua pelajar tersebut sebelumnya diteriaki dan digedor oleh pelajar lain karena dugaan berbuat mesum di dalam mobil.
“Ya memang benar ada informasi itu, dugaan mesum. Kemudian dia lari, diduga diteriaki ‘maling’, nggak respon, terus ikut ngejar,” kata Dedi.
Meski begitu, pihak kepolisian menyebut duduk perkara sebenarnya tidak jelas karena saat dimintai keterangan, para pelajar yang mengejar tidak mengetahui siapa yang pertama kali berteriak.
“Orangtuanya juga marah, karena dampak dari kejar-kejaran itu sampai terjadi kecelakaan. Disuruh tunjuk siapa yang ngomong pertama, nggak ada yang tahu,” tambahnya.
Dedi memastikan tidak ada pihak yang ditahan karena kecelakaan hanya menimbulkan kerusakan materi. Kedua belah pihak telah bermusyawarah dan sepakat menyelesaikan perbaikan kendaraan secara kekeluargaan.
“Kendaraan semalam sudah dibicarakan. Kerugian sudah disadari masing-masing dan ganti ruginya sudah dipenuhi,” jelasnya.
Penulis : Audindra Kusuma
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
