Beranda Peristiwa Soal Kakek Madhalim, Akademisi: Negara Harus Hadir di Tengah Warga Miskin

Soal Kakek Madhalim, Akademisi: Negara Harus Hadir di Tengah Warga Miskin

Tangkapan layar Madhalim Saat mengikat perutnya menggunakan tali plastik saat berjualan kangkung. (Istimewa)

LEBAK – Kisah Kakek Madhalim (86), lansia yang viral karena kelaparan saat berjualan kangkung, memicu desakan agar pemerintah bergerak lebih serius menangani kemiskinan ekstrem.

Akademisi STISIP Banten Raya, Muhammad Yos Rasyid, menegaskan negara wajib hadir dan memastikan tidak ada lagi warga miskin yang hidup dalam kondisi memprihatinkan.

Yos menilai kasus yang dialami Kakek Madhalim bukan sekadar persoalan individu, melainkan cerminan masih adanya warga yang belum sepenuhnya tersentuh perlindungan sosial.

“Realitas di Desa Kertaraharja ini menjadi fenomena sosial. Negara harus hadir untuk masyarakat miskin sesuai amanat undang-undang,” kata Yos kepada BantenNews.co.id, Senin (3/8/2026).

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak tidak cukup hanya memberikan bantuan sesaat. Pemerintah harus menyusun langkah yang mampu mengangkat kondisi ekonomi keluarga Kakek Madhalim agar dapat hidup mandiri.

“Pemerintah harus memberikan penanganan khusus. Pastikan dulu apakah beliau sudah menerima bantuan sosial, BPJS Kesehatan, dan program perlindungan lainnya,” ujarnya.

Yos menegaskan, kebutuhan paling mendesak saat ini ialah tempat tinggal yang layak. Ia menilai pemerintah harus segera merealisasikan program bedah rumah karena Kakek Madhalim bersama istrinya masih bertahan di sebuah gubuk bambu bekas tempat pembuatan kopra.

“Rumah menjadi kebutuhan paling mendesak. Jangan biarkan lansia hidup di tempat yang tidak layak pada usia senja,” tegasnya.

Sebelumnya, Kakek Madhalim menjadi perhatian publik setelah videonya beredar luas saat menahan lapar ketika berjualan kangkung.

BantenNews.co.id kemudian menemukan fakta lain yang lebih memprihatinkan. Selama dua tahun terakhir, Madhalim dan istrinya tinggal di gubuk bambu berukuran sekitar 5×5 meter di Kampung Kopi, Desa Kertaraharja, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak.

Gubuk tersebut minim penerangan, memiliki ventilasi terbatas, dan kerap bocor saat hujan. Bangunan itu juga berdiri di atas lahan milik orang lain sehingga sewaktu-waktu harus dikosongkan.

Baca Juga :  Meriahkan HUT RI ke-78, Ibu-ibu di Lebak Pakai Kostum TNI Lengkap Dengan Senjata

“Sudah dua tahun tinggal di sini. Saung sama tanah ini punya orang, kakek cuma numpang,” kata Madhalim.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Madhalim memulung brondol sawit. Sesekali ia menjual kangkung, meski kondisi kesehatannya terus menurun.

“Sehari-hari kakek memulung buah sawit. Kalau jualan kangkung hanya sesekali karena sudah sering sakit-sakitan,” ungkapnya.

Madhalim berharap pemerintah dapat menyediakan rumah yang layak agar ia dan istrinya tidak lagi hidup dalam ketidakpastian.

“Mudah-mudahan pemerintah bisa menyediakan tempat tinggal yang layak bagi kami. Soalnya tempat ini milik orang lain,” harapnya.

Penulis : Mg-Aldo Marantika
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd