Beranda Pemerintahan Soal Jembatan Bambu, Lurah Tamansari Akui Belum Ajukan Anggaran Perbaikan

Soal Jembatan Bambu, Lurah Tamansari Akui Belum Ajukan Anggaran Perbaikan

Jembatan Bambu di Lingkungan Langon Poksor, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon. (Usman/bantennews.co.id)

CILEGON – Lurah Tamansari, Edi Sugara angkat bicara terkait jembatan bambu di Lingkungan Langon Poksor, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon.

Dia mengaku memang terkait jembatan bambu tersebut tahun ini belum teranggarkan. Namun begitu pihaknya bakal mengusulkan pada Musrembangkel 2019 mendatang agar jembatan bambu tersebut bisa segera dibangun.

“Jembatan ini memang penghubung antara Tamansari dan Kelurahan Mekarsari. Jadi kita juga akan komunikasi dengan Kelurahan Mekarsari juga,” ujar Edi Sugara dihubungi wartawan, Jumat (30/11/2018), kemarin.

Dia menyatakan bahwa untuk mempercepat pembangunan jembatan bambu itu pihaknya juga akan berkomunikasi dengan pihak perusahaan yang ada di wilayah Tamansari agar bisa membangun jembatan tersebut.

“Kalau pemerintah kan anggarannya tidak semudah membalikan telapak tangan. Mudah-mudahan 2019 mendatang dibangun melalui usulan di Musrembangkel,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Warga Lingkungan Langon Poksor, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon merindukan jembatan yang layak. Ini lantaran sejak beberapa tahun lalu, jembatan di wilayah mereka hanya terbuat dari bambu. Kondisi ini jelas membayakan bagi warga sekitar. Apalagi saat musim hujan tiba.

Anggota DPRD Kota Cilegon, Rahmatulloh melakukan inspeksi mendadak ke lokasi jembatan untuk mengetahui secara langsung.

Politisi Partai Demokrat itu mengaku miris dengan kondisi jembatan yang menghubungkan ratusan kepala keluarga di wilayah perbatasan Kelurahan Tamansari dan Kelurahan Mekarsari tersebut.

“Saya ikut prihatin kalau di Cilegon masih ada jembatan yang terbuat dari bambu dan sudah lapuk. APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Cilegon saja sudah Rp1,8 triliun, masa sih masih ada jembatan bambu,” ujar Rahmatulloh.

Menurut Rahmatulloh, Pemkot Cilegon memang pernah membuatkan jembatan di wilayah sekitar. Namun hancur setelah dihantam banjir. Namun demikian dalam perbaikannya tak tanggap. Hingga akhirnya terbengkalai dan kemudian warga secara swadaya membuat sendiri menggunakan bambu karena memang sangat dibutuhkan untuk aktivitas warga.

Dia menyesalkan Pemkot Cilegon tak tanggap dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. “Kita juga tidak habis pikir, kenapa sudah cukup lama tidak diperbaiki oleh Pemkot Cilegon dengan membuat jembatan yang kokoh. Tadi saya coba juga cukup riskan, tadi saya lewat juga goyang jembatannya, apalagi ada motor lewat. Jembatan itu tidak kokoh karena pasti bila terjadi banjir akan hanyut lagi,” katanya.

Dia mendesak Pemkot Cilegon segera memperbaiki jembatan bambu dengan jembatan yang kokoh.

“Kalau 2019 tercantum ada anggaran rehab atau perbaikan jembatan di Langon ini agar segera dilaksanakan. Kalau tidak ada anggarannya, kami minta DPUTR segera dimasukan pada anggaran perubahan,” tandasnya.

Sementara itu Sultoni warga sekitar mengungkapkan warga sekitar sangat membutuhkan jembatan yang terbuat dari bambu itu dibangun secara kokoh. Sebab, jembatan tersebut akses utama masyarakat sekitar.

“Jembatan bambu ini kita bangun melalui swadaya masyarakat. Ini juga sudah dibangun kesekian kali, soalnya setiap banjir, jembatan ini hanyut. Kalau hanyut ya warga bikin lagi,” ucapnya.

Dia mengungkapkan bahwa jembatan tersebut sangat urgent. Sebab, digunakan berbagai aktivitas warga. Walaupun ada jalan alternatif, namun harus memutar cukup jauh.

“Yang kasihan itu kalau ada warga yang meninggal. Kita khawatir kalau lewat jembatan ini, takut ambruk. Kami berharap pemerintah segera memperbaiki. Informasinya sih sudah diajukan ke Pemkot Cilegon, tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ucapnya. (Man/Red)