Beranda Sosial dan Budaya Sirit Gopar, Menhir Berbentuk Alat Kelamin di Pandeglang

Sirit Gopar, Menhir Berbentuk Alat Kelamin di Pandeglang

 

PANDEGLANG – Di kawasan Pulosari, Pandeglang, terdapat banyak tinggalan tradisi megalitik berupa menhir, batu bergores, batu ranjang, batu goong, punden berundak, dan sebagainya. Salah satu situs yang unik di kawasan ini adalah Situs Sirit Gopar yang berada di lereng Gunung Pulosari, tepatnya di Kampung Gombrang, Desa Cikoneng, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang.

Berdasarkan buku Data Base Cagar Budaya di Kabupaten Pandeglang, Situs Sirit Gopar berupa menhir berukuran panjang 85 sentimeter dengan diameter 30 sentimeter. Bentuk menhir berbahan batu beku andesit yang dipahat ini berbentuk phallus atau alat kelamin pria.

Bagian bawah menhir berukuran lebih kecil daripada bagian badan dan puncak menhir. Menhir ditopang bolder batu di sekelilingnya sehingga berdiri tegak. Saat pertama ditemukan kondisi menhir dalam posisi rebah dikarenakan bagian bawah menhir tidak masuk cukup dalam ke tanah.

Bentuk yang “tidak umum”  menyerupai anatomi alat kelamin laki-laki yang dikenal dengan istilah phallus, seperti Sirit Gopar,  diinterpretasikan sebagai sarana pemujaan. Penggambaran alat kelamin merupakan simbol dari kelahiran dan proses  penciptaan baru. Simbol kesuburan ini merupakan pesan  dari masa lalu, dimana kesuburan dijabarkan dalam pengertian yang luas.

Dadan Sujana, peneliti dari Banten Heritage menyatakan bahwa menhir berbentuk phallus di Banten tak hanya Sirit Gopar. “Ada yang lain, misalnya Sirit Baduy di Mancak (Kabupaten Serang) atau d tempat lain juga, tapi bentuknya tidak seperti kemaluan laki-laki, hanya batu yang berdiri,” ujarnya, Sabtu (3/10/2020).

Dadan mangatakan bahwa kondisi menhir Sirit Gopar  saat ini sudah berbeda dengan saat pertama kali ditemukan. “Sekarang sudah berdiri, di atas tembok (ditanam),” ujarnya.

Dikatakan, menhir berupa phallus atau lingga biasanya ada pasangannya berupa yoni yang menggambarkan alat kelamin perempuan. Dadan mengatakan, di masa lalu menhir memiliki beberapa fungsi dan makna. “Biasanya digunakan masyarakat  sebagai tempat pemujaan, sebagai tanda kekuasaan, atau sebagai tanda batas wilayah,” ujarnya. (ink/red)