KAB. SERANG — Penantian panjang murid SDN Inpres Cikeusal, Kabupaten Serang, akhirnya terjawab. Setelah delapan tahun tanpa kepastian, pembangunan sekolah itu akhirnya dimulai.
Diketahui, bangunan lama SDN Inpres Cikeusal terdampak Proyek Strategis Nasional (PSN) Tol Serang-Panimbang (Serpan). Selama bertahun-tahun, persoalan relokasi dan pembangunan sekolah itu terus menggantung tanpa kejelasan.
Kini, proyek pembangunan mulai berjalan melalui skema ruislag oleh PT Wijaya Karya Tbk selaku pelaksana pembangunan Tol Serang–Panimbang.
Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah menegaskan, pembangunan ini menjadi jawaban atas persoalan panjang yang selama ini dikeluhkan masyarakat.
“Alhamdulillah, hari ini saya meninjau langsung lokasi pembangunan SDN Inpres Cikeusal. Delapan tahun masalah ini menggantung tanpa penyelesaian, dan tahun ini akhirnya pembangunan bisa dimulai,” ujar Zakiyah usai peletakan batu pertama pembangunan sekolah tersebut di Kampung Panenjeon, Desa Cikeusal, Kecamatan Cikeusal, Senin (22/6/2026).
Ia menilai, pembangunan SDN Inpres Cikeusal menjadi bukti bahwa persoalan besar bisa diselesaikan melalui kolaborasi lintas sektor.
Zakiyah juga mengajak seluruh pihak ikut mengawal pembangunan agar prosesnya berjalan lancar hingga tuntas sesuai target.
“Saya berterima kasih kepada semua pihak, PT WIKA, Dindikbud, DPUPR, Bapperida, dan seluruh pihak yang terlibat. Ini bukti bahwa dengan kolaborasi, persoalan yang rumit pun bisa kita selesaikan,” tegasnya.
Pembangunan sekolah ini ditargetkan rampung dalam enam bulan atau sekitar November 2026. Nantinya, sekolah baru tersebut akan memiliki tujuh ruang, terdiri dari ruang kelas, ruang guru, toilet, area parkir, hingga fasilitas olahraga.
Zakiyah optimistis siswa bisa segera menempati gedung baru setelah proyek selesai.
“Insya Allah November selesai dan bisa langsung digunakan untuk kegiatan belajar mengajar,” katanya.
Pimpinan Proyek PT Wijaya Karya Tbk, Kuntoro Laksono Nugroho menjelaskan, lamanya pembangunan terjadi karena proses pembebasan lahan yang memakan waktu cukup panjang.
Menurutnya, negosiasi penentuan lokasi hingga ganti rugi menjadi tantangan utama dalam penyelesaian proyek ini.
“Kami terus berkoordinasi dengan Pemda, PUPR, dan pemilik lahan hingga akhirnya semua pihak mencapai kesepakatan soal nilai ganti rugi,” ujar Kuntoro.
Ia memastika, pembangunan berjalan sesuai target. Sekolah baru itu berdiri di atas lahan seluas 1.300 meter persegi, lebih luas dibanding bangunan sebelumnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang, Aber Nurhadi berharap bangunan baru SDN Inpres Cikeusal memberi kenyamanan lebih bagi para siswa.
“Kami ingin sekolah ini lebih kokoh, lebih aman, dan lebih nyaman agar anak-anak bisa belajar dengan tenang,” ujarnya.
Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah
