Beranda Pendidikan Semangat Siswa SD Cigelam 2, Belajar Tanpa Kursi dan Meja

Semangat Siswa SD Cigelam 2, Belajar Tanpa Kursi dan Meja

Suasana belajar siswa di SD Negeri 2 Cigelam, Kabupaten Serang. (Foto: Nindia/Bantennews.co.id)

KAB. SERANG – Keceriaan dalam belajar terpancar dari wajah siswa-siswi di SD Negeri Cigelam 2 Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, meski beberapa anak harus belajar dengan kondisi sarana dan prasarana yang sangat terbatas.

SD Negeri Cigelam 2 sudah memulai Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) sejak 16 Agustus 2021 lalu. Agar sesuai juknis dan aturan protokol kesehatan, PTMT di SD Negeri Cigelam 2 menggunakan pola bagi hari masuk dengan rincian jadwal masuk untuk Senin, Selasa, dan Rabu bagi kelas 1 sampai kelas 3 yang dimulai pukul 08.00 sampai 10.30. Kemudian bagi kelas 4 sampai kelas 6 dilaksanakan pada Kamis, Jumat, dan Sabtu mulai pukul 08.00 sampai 11.00 WIB.

SD Negeri Cigelam 2 memiliki 149 murid dan 6 ruang kelas yang terdiri dari 30 murid kelas 1, 27 murid kelas 2, 27 murid kelas 3, 22 murid kelas 22, 23 murid kelas 5, dan 20 murid kelas 6.

Pantauan BantenNews.co.id di lokasi, para murid belajar dengan tertib dan ceria serta mengikuti aturan protokol kesehatan. Namun, miris ada beberapa dari mereka yang belajar hanya menggunakan meja gambar kecil dan duduk di lantai. Bahkan ada yang duduk di atas lantai tanpa menggunakan meja. Kejadian itu ditemui pada murid kelas 2 dan kelas 3 yang hari ini sedang menggunakan ruang kelas 4 dan ruang kelas 5.

Kepala Sekolah SD Negeri Cigelam 2, Ade Siti Aminah mengatakan kondisi tersebut dikarenakan banyaknya meja dan bangku yang rusak. Meja dan bangku sekolah yang rusak sudah terjadi sekitar dua tahun lalu.

“Pertama kali saya datang ke sini Februari 2019 dan keadaan bangku meja yang rusak tidak terpakai menumpuk di bagian belakang kelas. Saya keluarin semua dari kelas dan saya kanibalin, yang masih bagus diambil nanti ditempelin ke lain, dapatlah bisa nambah-nambah,” ujarnya pada BantenNews.co.id ketika ditemui di sekolah, Rabu (1/9/2021).

Ia menambahkan sebelum pandemi, persoalan meja dan bangku yang rusak lalu diperbaiki kembali, tidak menjadi masalah dikarenakan para murid belajar secara berkelompok dan satu kelompok hanya menggunakan dua meja. Namun ketika pandemi, sesuai juknis dan protokol kesehatan untuk sekolah dapat melakukan PTMT diberlakukan pengaturan jarak antar murid di dalam kelas. Murid-murid tidak diperbolehkan berkerumun dan duduk berdampingan.

“Sekarang pas Covid anak kan enggak boleh belajar numpuk, harus satu-satu. Pas di ruang-ruang ternyata ada yang tidak kebagian yaitu dua ruang kelas, ruang kelas 4 dan ruang kelas 5,” katanya.

Dijelaskan Ade, ia lebih memilih menggunakan pola bagi hari masuk dikarenakan agar semua murid dapat merasakan belajar menggunakan meja dan bangku.

“Kita tidak memakai sistem ganjil genap berdasarkan absensi karena saya ingin setiap anak bisa merasakan juga bagaimana belajar di meja dan bangku, misal anak-anak yang minggu ini duduk di lantai nanti minggu depan mereka duduk di atas,” tuturnya.

Persoalan kurangnya meja dan bangku sempat menjadi pertanyaan orangtua murid ke pihak sekolah hingga ada yang sampai mengusulkan untuk melakukan iuran. Namun hal itu ditolak oleh Ade dikarenakan ia mengetahui kondisi ekonomi para orangtua murid yang sebagian besar sebagai petani.

“Orangtua itu ada yang menanyakan kapan ada bangku dan mejanya dan saya selalu menjelaskan “Ibu sabar ya, nanti dari Dinas juga ngasih. Sekarang itu lagi enggak ada programnya”, saya pokoknya gitu menjelaskan ke orangtua, kalau udah ada programnya nanti dikirim. Ada orangtua juga yang sampai bilang “Bu apa iuran bae tah 10 ribuan”, tapi tidak bisa seperti itu, karena keadaan orangtua murid di sini hanya buruh tani, walaupun keadaan begini juga saya enggak akan tega,” jelasnya.

Ade mengatakan sudah melaporkan kondisi tersebut ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang namun pengadaan meubelair untuk SD Negeri Cigelam 2 belum ada.

“Sudah mengajukan ke Dindik setahun yang lalu, saya juga sudah ngobrol dengan Kasi Sarpras SD, beliau bilang belum ada program untuk meubelair. Nanti misal ada diutamakan meski satu kelas. Saya tidak apa-apa yang penting dapat aja. Sekarang kami enggak bisa berbuat apa-apa kan, kita ingin belajar tetap berjalan dan sesuai protokol kesehatan. Itulah anak-anak akhirnya bawa meja sendiri dari rumah, meja gambar kecil. Kalau yang tidak punya meja gambar kecil ya belajar pakai bangku dijadikan meja untuk belajar,” ujarnya.

Kendati demikian, dengan keadaan yang sangat terbatas itu tidak menyurutkan semangat para murid untuk melakukan PTMT. “Anak-anak dan guru di sini alhamdulillah semangat apalagi dengan adanya PTM ini menyambut banget jadinya kita fasilitas yang ada dimanfaatkan aja, adanya segitu ya dimanfaatkan aja,” ungkapnya.

Tidak hanya meja dan bangku yang menjadi perhatian, selain itu juga terdapat beberapa atap bangunan di depan ruang kelas yang bolong.

Sementara itu, Sri salah satu orangtua murid dari SD Negeri Cigelam 2 yang ditemui di lokasi mengaku senang dengan mulainya PTMT kembali meski dilakukan dengan keterbatasan.

“Iya lagi nungguin anak, senang bisa mulai belajar tatap muka lagi jadi anak lebih fokus,” katanya.

(Nin/Red)