Beranda Opini Selayang Pandang Asesmen Diagnostik

Selayang Pandang Asesmen Diagnostik

Aktivitas PTM di Kota Tangerang - foto istimewa

Oleh: Yudi Damanhuri [Praktisi Pendidikan]

Kebulatan sebuah informasi tidak bisa kita percayai begitu saja tanpa masuk dalam ‘ruang permenungan’. Selain memastikan fakta dengan mencocokan ke berbagai media, harus pula tersaring pada ‘redaksi diri’ sang pengabar. Alih-alih ingin berbagi informasi, kita sendiri belum mengetahui kepastian sebuah informasi tersebut hingga banyak pertanyaan dari orang-orang yang menelan kabar atas apa yang kita sebar dan gagapnya kecakapan kita menjawab semua itu. Maka kita harus menerjemahkan apa yang Rustam Effendi guratkan yaitu ‘Percikan Permenungan’.

Dalam pada itu, dunia pendidikan sedang marak akan kabar kebaruan kurikulum yang didadarkan oleh berbagai praktisi pendidikan yang sudah dicanangkan oleh pemerintah pusat dan harus dijalankan oleh para praktisi pendidikan agar bersinergi dan sejalan dengan sila ketiga bangsa Indonesia.

Salah satu yang ramai jadi pembicaraan pada dunia pendidikan yaitu Kurikulum Merdeka. Singkatnya, kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam. Pembelajaran akan lebih maksimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan memperkuat kompetensinya. Hal yang menjadi sorotan penulis lebih mengkerucut pada asesmen diagnostik. Karena asesmen diagnostik merupakan salah satu elemen penting dalam Kurikulum Merdeka.

Pentingnya asesmen diagnostik untuk para pengajar dikarenakan tidak semua siswa merata mendapat porsi pemahaman yang disampaikan oleh pengajar. Salah satu contoh kasus pandemi yang terjadi di seluruh dunia, fase transisi jenjang sekolah menjadi dunia baru bagi para siswa. Urgensinya adalah kita mendapatkan informasi kondisi awal siswa dengan porsi dan takaran yang terukur.

Asesmen diagnostik terbagi menjadi dua, yaitu asesmen diagnostik non kognitif dan asesmen diagnostik kognitif.
Pada tahapan asesemen non kognitif dilakukan di awal pembelajaran meliputi; Persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. Lebih spesifiknya yang dapat kita gali yaitu psikologi dan sosial siswa; aktivitas selama belajar di rumah; kondisi keluarga dan lingkup pergaulan; gaya belajar, karakter, dan minat siswa.

Pada tahap persiapan, Pendidik menyiapkan alat berupa gambar yang mewakili emosi dan membuat daftar pertanyaan kunci agar jawaban yang didapat lebih terarah.

Pada tahap pelaksanaan, pastikan seorang pendidik membuat daftar pertanyaan yang mudah dipahami dan jelas; berikan acuan atau stimulus informasi guna membantu siswa menjawab pertanyaan yang diberikan; dan yang terakhir memberikan siswa jeda waktu berpikir.

Pada tahap tindak lanjut, seorang pendidik mengidentifikasi siswa dengan temuan hasil gambar emosi yang diekspresikan untuk lebih lanjut diajak berdiskusi secara empat mata; Menentukan apa yang akan ditindak lanjut, bila perlu komunikasikan dengan orangtua; dan yang terakhir, ulangi asesmen non kognitif pada setiap awal pembelajaran dimulai.

Sedangkan asesmen diagnostik kognitif yaitu bertujuan mendiagnosis kemampuan dasar siswa dalam topik sebuah mata pelajaran. Asesmen diagnosis koginitif dapat dilaksanakan secara rutin dan berkala. Dalam pada ini berupa formatif maupun sumatif. Tahap pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan apa yang tersebut di atas yaitu; Persiapan, pelaksanaan, diagnosia dan tindak lanjut.

Dalam persiapan dan pelaksanaan, seorang pendidik membuat jadwal pelaksanaan asesmen; identifikasi materi asesmen berdasarakan kompetensi dasar; dan susun pertanyaan yang sederhana. sedangkan dalam tindak lanjut, meliputi lakukan pengolahan hasil asesmen; bagi siswa menjadi tiga kelompok berdasarkan temuan yang didapat; lakukan penilaian pembelajaran topik yang sudah diajarkan dan yang terakhir ulangi proses diagnosis ini dengan melakukan asesmen formatif hingga siswa mencapai tingkat kompetensi yang diharapkan.

Agar berjalannya implementasi asesmen diagnostik yang paripurna, diperlukan tutor memadai yang tentu saja mumpuni dalam bidangnya melalui tahapan-tahapan yang sudah terverifikasi menjadi Guru Penggerak versi Kemendikbud.

Dalam pada itu para pendidik dituntut lebih kreatif dan inovatif mendedah dan mendadarkan isu atau fakta yang hangat menjadi topik pembicaraan di berbagai media agar bersinergi dengan pembelajaran. Banyak kenyataan yang dibentuk oleh gagasan dan imajinasi. Tentu saja sebuah perwujudan yang menjadi didasari atas kerja keras tindakan. Hal utama yang menjadi motif selain material dan moral yaitu sikap diri, mau berbagi, disiplin dan aktualisasi agar pembelajaran menarik dan ajeg diikuti para peserta didik. Patut kita sadari, sebagai laku pendidik, memberikan jenjang kelanjutan anak tangga bagi peserta didik akan memberikan mereka jalan kelanjutan untuk meraih tahapan ke tingkat selanjutnya. []