Beranda Bisnis Selama 6 Bulan, Banten Sumbang Rp41,1 Triliun ke Indonesia

Selama 6 Bulan, Banten Sumbang Rp41,1 Triliun ke Indonesia

Ilustrasi - foto istimewa Kompas.com

SERANG – Provinsi Banten telah menyumbang pendapatan daerah ke negara sebesar 41,1 triliun rupiah dari Januari hingga 30 Juni 2023.

Hal itu disampaikan kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Banten Sugiyarto melalui siaran pers yang diterima BantenNews.co.id, Senin (31/7/2023).

Ia menjelaskan pendapatan negara tersebut terdiri dari sektor perpajakan senilai Rp. 37,07 triliun, sektor kepabeanan dan cukai senilai Rp. 6,26 triliun, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) senilai Rp. 0,76 triliun.
Sementara itu, realisasi belanja negara di Provinsi Banten sudah mencapai Rp. 12,02 triliun atau 46,50% dari pagu anggaran. Belanja negara tersebut meliputi Belanja Kementerian atau Lembaga sebesar Rp. 4,03 triliun dan transfer ke daerah senilai Rp. 7,99 triliun.

Kemudian dari Januari Hingga Juni 2023, sembilan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di lingkungan Kanwil DJP Banten mengalami tren pertumbuhan positif. KPP dengan capaian tertinggi adalah KPP Pratama Pondok Aren, yaitu sebesar 65,94% dan KPP dengan pertumbuhan tertinggi adalah KPP Pratama Serang Timur senilai 23,03%. Adapun kotribusi penerimaan pajak terbesar berasal dari Pajak Penghasilan (PPh)NonMigas dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Banten Sugiyarto menyampaikan bahwa sektor dominan dengan pertumbuhan yang paling tinggi adalah sektor keuangan dan asuransi dengan pertumbuhan 54,58%. Sedangkan sektor perdagangan masih menjadi kontibutor terbesar dalam penerimaan pajak di Provinsi Banten, dengan kontribusi sebesar 20,43%.

Selain itu, realisasi penerimaan bea dan cukai mengalami tren pertumbuhan yang positif. Pendapatan bea masuk diperoleh dari kinerja impor nasional, terutama barang konsumsi dan kebutuhan bahan baku/penolong kebutuhan industri raw sugar.

Pendapatan cukai tumbuh dipengaruhi oleh kebijakan relaksasi (pembukaan) daerah tujuan wisata, pertumbuhan industri rokok elektrik serta kenaikan tarif cukai hasil tembakau, dan extra effort kegiatan pengawasan di bidang cukai. Sementara itu, Bea Keluar tumbuh -86,64% (dengan kontribusi 0,09%) yang dipengaruhi fluktuasi harga komoditas kelapa sawit dan produk turunan pengolahannya.

”Banten merupakan provinsi penghasil penerimaan cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) terbesar di Indonesia (CEISA Billing 2022). Penerimaan cukai MMEA bulan Juni 2023 ini juga mengalami pertumbuhan positif sebesar 6,07 persen (YoY: Juni 2022). Selain karena peningkatan volume produksi, penerimaan cukai MMEA juga semakin optimal sejalan dengan pelaksanaan operasi pengawasan yang dilaksanakan secara serentak dan terpadu di seluruh wilayah Indonesia,” ujarnya.

Sugiyarto juga menyampaikan realisasi belanja APBN dari Januari sampai 30 Juni 2023 sebesar Rp.12,02 Triliun atau 46,50% dari pagu. ”Trennya bertumbuh 1,79 % dibandingkan periode yang sama tahun anggaran yang lalu. Salah satu penyebabnya adalah karena kita sudah memasuki tahapan Pemilu sehingga terjadi peningkatan realisasi belanja,” terangnya.

”Terjadi perubahan kebijakan penyaluran Kredit Usaha Rakyat(KUR), sehingga pemerintah tidak maksimal menyalurkan KUR. Namun, pemerintah cukup optimis target penyaluran KUR akan tercapai di akhir tahun. Begitu pula penyaluran Ultra Mikro (UMi) mengalami kontraksi dikarenakan kenaikan biaya administrasi akibat banyaknya debitur yang gagal bayar pada saat pandemic Covid-19,” ujarnya. (Dhe/Red)

Temukan Berita BantenNews.co.id di Google News