Beranda Opini Sektor UMKM Terdampak

Sektor UMKM Terdampak

180
0
Produk UMKM Kabupaten Pandeglang - foto istimewa

Oleh: Intan Sari Budhiarjo S.E., M.M, Dosen Prodi Manajemen Universitas Pamulang

UMKM merupakan sektor yang paling pertama terdampak Covid-19. Dampak negatif terbesar bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) adalah penurunan penjualan di beberapa sektor, seperti; sektor restoran, olahraga & hobi, dan juga toko bangunan. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan penjualan UMKM adalah perubahan perilaku konsumen. Dari data yang ada jumlah transaksi di industri restoran anjlok 70 persen dengan pendapatan turun hingga 80 persen.

Tidak jauh berbeda dengan UMKM di bidang olahraga, hobi dan toko bangunan juga merasakan hal yang sama. Industri olahraga dan hobi bahkan mengalami penurunan hingga 90 persen dari segi pendapatan, sedangkan untuk industri toko bangunan turun sebesar 65 persen.
Di sisi lain dampak yang berbeda justru dirasakan oleh lini UMKM lain yang meraup berkah dan peningkatan penjualan di masa pandemi Covid-19. Seperti usaha penjualan pulsa yang pendapatannya meningkat hingga 1000 persen, usaha kecantikan dan kesehatan yang meningkat 800 persen, logistik yang meningkat hingga 400 persen, dan industri laundry yang naik 300 persen.

Dalam masa pandemi ini, masyarakat secara umum dipaksa mengubah kebiasaan mereka yang dulu bergeser untuk lebih memprioritaskan pengeluaran pada barang dan jasa seperti makanan dan juga alat kesehatan. Penurunan di berbagai sektor UMKM ini perlu segera di respon dengan strategi inovasi produk, dan inovasi usaha agar bisnis tetap relevan dengan tatanan kehidupan yang baru.

Saat ini UMKM harus sadar bahwa pemanfaatan teknologi sudah tak terelakan lagi. Adaptasi ke ranah digitalisasi atau daring (online), misalnya; pebisnis UMKM dibidang makanan bisa mulai berinovasi menjual makanan secara daring melalui sistem aplikasi pengantaran atau menjajakan sendiri melalui akun media sosial. Sebagian dari mereka juga menerapkan strategi khusus hingga menciptakan tren baru di bisnis kuliner, seperti kopi literan dan makanan beku (frozen).

Jika inovasi dan digital dikombinasikan, lalu didukung dengan penerapan sejumlah kebijakan dan stimulus agar usaha tetap berjalan, sekaligus tetap menjaga daya beli masyarakat, maka permintaan terhadap produk UMKM akan naik signifikan.

Selain itu, untuk meringankan beban UMKM, pemerintah pun telah menyiapkan enam langkah untuk mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM yang terdampak pandemi corona. Program-program tersebut diperkirakan memakan anggaran senilai Rp 1.601,75 triliun. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan mengatakan enam program yang telah disusun yakni perluasan akses pasar, peningkatan daya saing, pengembangan kewirausahaan, akselerasi pembiayaan dan investasi, kemudahan dan kesempatan berusaha dan koordinasi lintas sektor. Nantinya, program tersebut akan dijalankan di setiap daerah.

UMKM secara natural mampu untuk bangkit kembali, tetapi membutuhkan waktu dan uluran tangan dari pemerintah. Kegiatan perekonomian pun sudah mulai berjalan kembali yang diprediksi pada akhir tahun potensi pemulihan UMKM dapat bertumbuh 70-80 persen, tetapi tergantung dengan iklim usaha yang sehat karena sektor UMKM ini berbasis pendapatan harian.

(Red)