Beranda Pendidikan Sekolah Rakyat Jadi Harapan Dua Anak di Kota Serang Bisa Terus Sekolah

Sekolah Rakyat Jadi Harapan Dua Anak di Kota Serang Bisa Terus Sekolah

Ardi (kanan) dan adiknya, Holikul Amin (kiri). (Adef/bantennews)

SERANG – Di sebuah rumah sederhana di Lingkungan Karundang Kolektor, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Bu Wacih menjalani hari-harinya bersama tiga cucu.

Usia yang tak lagi muda tak membuatnya berhenti berjuang. Namun, satu hal tak mampu ia lawan sendirian: biaya pendidikan.

Dua cucunya, Ardi dan Holikul Amin, kini berdiri di persimpangan jalan. Mereka hanya memiliki satu harapan untuk tetap mengenyam pendidikan, yakni lolos sebagai peserta Program Sekolah Rakyat (SR).

Bagi banyak anak, sekolah merupakan rutinitas. Namun bagi Ardi dan Holikul, sekolah adalah perjuangan yang nyaris terhenti karena kemiskinan.

Kedua kakak beradik itu hidup bersama neneknya setelah kedua orang tua mereka berpisah dan tak lagi mendampingi kehidupan mereka.

Bu Wacih mengasuh mereka dengan segala keterbatasan, sementara kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah menjadi beban berat.

Ardi bahkan hampir mengubur mimpinya melanjutkan pendidikan. Keterbatasan biaya sempat membuatnya berada di ambang putus sekolah.

Beruntung, dukungan dari pihak sekolah membuatnya mampu menyelesaikan pendidikan dasar dan bersiap memasuki jenjang SMP. Nasib serupa juga mengintai Holikul Amin yang akan naik ke kelas IV SD.

Kini, keduanya menggantungkan harapan pada Sekolah Rakyat, program pendidikan gratis yang menyasar anak-anak dari keluarga miskin.

Namun, harapan itu belum berubah menjadi kepastian. Pemerintah masih menjalankan proses verifikasi sebelum menetapkan peserta.

Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Farhah Syibli mengatakan, pihaknya telah mendampingi kedua anak tersebut sejak Mei 2026.

“Penjangkauan Sekolah Rakyat sudah berjalan sejak Mei. Ardi dan Holikul Amin sudah kami lakukan penjangkauan, datanya sudah masuk ke aplikasi Setara dan sekarang tinggal menunggu SK penetapan,” kata Farhah, Kamis (9/7/2026).

Perjalanan mereka ternyata tak hanya terhambat persoalan ekonomi. Administrasi juga menjadi batu sandungan.

Baca Juga :  Bobi, Sapi Limosin 1 Ton Asal Serang Jadi Kurban Presiden Prabowo

Holikul Amin masuk dalam Kartu Keluarga neneknya yang tergolong desil 1. Sementara Ardi masih tercatat dalam Kartu Keluarga orang tuanya sehingga masuk kategori desil 3.

Padahal, Program Sekolah Rakyat memprioritaskan anak dari keluarga desil 1 dan desil 2.

Meski begitu, Farhah telah menyampaikan kondisi sebenarnya kepada pemerintah. Ardi sudah lama tinggal bersama neneknya karena kedua orang tuanya berpisah dan keberadaan mereka hingga kini tidak diketahui.

“Hasil pendataan sudah kami sampaikan sesuai kondisi yang sebenarnya di lapangan. Saat ini tinggal menunggu hasil verifikasi dan penetapan,” ujarnya.

Farhah mengaku berkali-kali mendatangi rumah Bu Wacih untuk memastikan kondisi keluarga tersebut.

“Saya beberapa kali datang ke sekolah dan bertemu kepala sekolah. Informasi yang kami terima sama, kedua anak ini memang rentan putus sekolah. Dalam beberapa bulan terakhir saya juga sudah lebih dari enam kali mengunjungi rumah Bu Wacih untuk melakukan pendampingan,” tuturnya.

Di balik dinding rumah yang sederhana, Bu Wacih menyimpan harapan besar. Ia tak lagi memikirkan dirinya sendiri. Seluruh doanya tertuju pada masa depan dua cucunya.

“Saya tidak bisa membiayai sekolah mereka. Harapan saya Ardi dan Holikul Amin diterima di Sekolah Rakyat supaya tetap sekolah, jadi anak pintar, sukses, dan saleh,” ucapnya dengan penuh harap.

Bu Wacih sebenarnya memiliki tiga cucu yang tinggal bersamanya. Namun, ia hanya mendaftarkan Ardi dan Holikul ke Sekolah Rakyat.

Ia memilih membiarkan satu cucunya tetap tinggal di rumah agar dirinya tidak sepenuhnya hidup seorang diri.

Di tengah segala keterbatasan, Ardi masih berani bermimpi. Bocah itu ingin terus belajar, memiliki teman baru, dan suatu hari nanti mengubah nasib keluarganya.

“Saya memilih Sekolah Rakyat karena nenek tidak mampu membiayai sekolah. Saya ingin mendapat teman baru, fasilitasnya bagus, masih banyak yang ingin saya pelajari dari guru-guru. Harapan saya bisa diterima sampai lulus sekolah dan nanti menjadi orang sukses,” katanya.

Baca Juga :  Sekolah Tatap Muka Segera Digelar, Dindikbud Kabupaten Serang Mulai Persiapan

Namun, jalan menuju impian itu tidak mudah. Kuota Sekolah Rakyat di Kota Serang sangat terbatas. Jenjang SD dan SMP masing-masing hanya membuka dua rombongan belajar dengan kapasitas 30 siswa per kelas.

Banyaknya pendaftar membuat proses seleksi berlangsung ketat.

Bagi sebagian orang, hasil seleksi mungkin hanya sebatas daftar nama yang diterima atau tidak. Namun bagi Ardi dan Holikul, keputusan itu akan menentukan apakah mereka tetap duduk di bangku sekolah atau kembali terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang selama ini membayangi kehidupan mereka.

Penulis : Ade Faturohman
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd