Beranda Peristiwa Sejarah 8 Gempa Merusak di Wilayah Banten

Sejarah 8 Gempa Merusak di Wilayah Banten

BANTEN – Sebanyak delapan gempa yang merusak pernah terjadi di Selat Sunda/Banten. Delapan gempa itu terjadi selama periode 1851 hingga Agustus 2019. Data tersebut diungkapkan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat konferensi pers virtual, Jumat (14/1/2022).

Kata Dwikorita, data tersebut terjadi sebelum gempa 6,6 M mengguncang pada Jumat (14/1/2022) kemarin.

“Perlu kami sampaikan berdasarkan catatan sejarah kegempaan, sejak 1851 hingga 2019, telah terjadi beberapa kali gempa bumi di wilayah tersebut,” ungkap Dwikorita.

Dwikorita merinci kedelapan gempa yang terjadi :

1. Mei 1851 gempa kuat di sekitar Teluk Betung dan Selat Sunda menyebabkan gelombang tsunami setinggi 1,5 meter, namun tidak ada laporan berapa kekuatannya.
2. 9 Januari 1852, gempa yang juga tidak diketahui kekuatannya menyebabkan tsunami kecil.
3. Pada 27 Agustus 1883 terjadi tsunami di atas 30 meter akibat letusan Gunung Krakatau.
4. Pada 23 Februari 1903 terjadi gempa magnitudo 7,9 yang berpusat di selatan Selat Sunda dan menyebabkan kerusakan di Banten.
5. Pada 26 Maret 1928 terjadi tsunami kecil yang teramati di Selat Sunda pasca gempa kuat, namun tidak diketahui berapa kekuatan getarannya.
6. Pada 22 April 1958 terjadi gempa kuat di Selat Sunda diiringi dengan kenaikan permukaan air laut/tsunami.
7. Pada 22 Desember 2018 terjadi longsoran akibat letusan Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan tsunami.
8. Terakhir pada 2 Agustus 2019 terjadi gempa magnitudo 7,4 yang merusak di Banten dan terjadi tsunami.

Mengingat wilayah sekitar Banten/Selat Sunda kerap terjadi gempa dengan kekuatan merusak, Dwikorita meminta agar bangunan di sekitar wilayah tersebut dibangun dengan menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi guna menghindari dari risiko kerusakan.

“Selain itu juga harus dilengkapi dengan jalur dan tempat evakuasi,” kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Bambang Setiyo Prayitno mengungkapkan, Indonesia merupakan wilayah pertemuan lempeng sehingga rawan terjadi gempa.

Ia beranggapan, mamang sudah semestinya masyarakat membangun rumah tahan gempa. Selain itu, usai gempa 6,6 M, Jumat (14/1/2022) kemarin, masyarakat diminta mengecek kondisi bangunannya.

Ia menyarankan masyarakat untuk mengungsi sementara jika menemukan kerusakan dan berpotensi rusak.

“Gempa bumi ini tidak membunuh tapi yang membunuh itu dampaknya dari bangunan yang kurang kuat dan sebagainya, ini sangat membahayakan jadi tolong diperhatikan dengan baik-baik,” kata dia. (Red)