
KAB. TANGERANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mempercepat normalisasi Sungai Cirarab serta memperkuat sistem pengendalian banjir melalui optimalisasi operasional Bendung Sarakan di wilayah hilir Kabupaten Tangerang. Langkah tersebut merupakan tindak lanjut rapat koordinasi lintas daerah di kawasan Tangerang Raya.
Gubernur Banten, Andra Soni, mengatakan pintu air Bendung Sarakan kini kembali berfungsi setelah diperbaiki menggunakan sistem hidrolik dengan anggaran Rp5 miliar pada tahun lalu.
“Ini bendung masyarakat, pintu airnya ada tujuh. Tadinya semua rusak. Sekarang sudah menggunakan sistem hidrolik, diperbaiki oleh Pemerintah Provinsi Banten dengan anggaran tahun lalu sebesar Rp5 miliar,” ujar Andra Soni saat meninjau lokasi, Selasa (24/2/2026).
Menurutnya, sebelumnya pintu air dioperasikan secara manual. Untuk membuka satu ulir pintu diperlukan hingga 20 kali putaran. Dengan sistem hidrolik, pengaturan debit air dinilai lebih efektif dan responsif.
“Dulu kalau dibuka secara manual, satu ulir perlu sekitar 20 putaran untuk satu pintu. Sekarang sudah menggunakan hidrolik, fungsinya alhamdulillah berjalan baik. Tinggal kita menormalisasi bagian hulunya,” katanya.
Andra menyoroti persoalan sedimentasi di bagian hulu Sungai Cirarab yang disebut telah mencapai sekitar dua pertiga tinggi saluran. Kondisi tersebut menghambat aliran air menuju laut dan berpotensi memicu genangan saat curah hujan tinggi.
“Ke arah laut jaraknya kurang lebih tujuh kilometer. Saya mendapat informasi sedimentasinya sudah membentuk pulau-pulau kecil. Ini harus kita tangani dan perlu penanganan jangka pendek melalui koordinasi dengan Balai,” ujarnya.
Ia menegaskan, pengendalian banjir tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus terintegrasi dari hulu hingga hilir. Saat banjir besar sebelumnya, wilayah hulu seperti Gelam dan Villa Total terdampak genangan, sementara area sekitar bendung relatif aman.
“Artinya air tidak mengantre di saluran utama. Waktu banjir kemarin, di sini tidak banjir, justru hulunya yang terdampak,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Banten, Arlan Marzan, menambahkan Bendung Sarakan dibangun pada 2025 dengan tujuh pintu air serta dilengkapi rumah genset sebagai bagian dari penguatan infrastruktur pengendalian banjir di Tangerang Raya.
“Sebelum ada bendung ini, konstruksinya sudah rusak. Masyarakat menutup pintu secara manual menggunakan kayu besar agar air naik dan masuk ke sawah,” ujarnya.
Kondisi tersebut, kata Arlan, sempat memicu banjir pada akhir 2024 karena pintu air tidak kembali dibuka saat musim hujan. Kini, sistem otomatis dilengkapi petugas juru situ untuk memastikan pengoperasian berjalan optimal.
Ia menyebut kawasan tersebut rawan banjir karena menjadi wilayah hilir aliran yang berdampak hingga Kabupaten dan Kota Tangerang. Upaya normalisasi sungai dilakukan secara simultan, masing-masing sepanjang 1,7 kilometer oleh Balai, 700 meter oleh pemerintah provinsi, serta ditambah pekerjaan dari pemerintah kabupaten/kota.
“Targetnya mempercepat aliran air ke laut dan menekan risiko banjir berulang,” pungkasnya.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: Usman Temposo