Beranda Peristiwa Satgas Penertiban Kawasan Hutan Buru Dalang Tambang Emas Ilegal di Lebak

Satgas Penertiban Kawasan Hutan Buru Dalang Tambang Emas Ilegal di Lebak

Komandan Satgas PKH Mayjen Dody Triwanto saat menghancurkan lubang emas. (foto: Sandi/BantenNews.co.id)

LEBAK – Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) menertibkan 55 lubang tambang emas ilegal di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang berada di wilayah Kabupaten Lebak, Banten.

Direktur Penindakan Pidana Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rudianto Saragih Napitu, menyatakan bahwa pihaknya bersama Satgas Garuda PKH tidak hanya menargetkan penutupan lubang tambang, tetapi juga memburu para pemodal, pemasok merkuri, serta penadah emas yang terlibat dalam praktik pertambangan ilegal.

“Sasaran utama kita bukan hanya lubangnya, tetapi para pihak yang paling diuntungkan dalam kegiatan pertambangan emas ilegal. Masyarakat tidak merasakan hasilnya, mereka hanya dimanfaatkan oleh bos-bos yang memiliki uang,” ujar Rudianto kepada media.

Ia menjelaskan, operasi penertiban ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2025 tentang penanganan pertambangan ilegal (PETI).

“Hingga hari ini, Satgas Garuda PKH telah menyegel 55 lubang tambang di sejumlah blok kawasan TNGHS yang berada di Kabupaten Lebak, Banten,” katanya.

Rudianto menambahkan, selama satu bulan operasi, Satgas Garuda PKH telah menertibkan 281 lubang tambang emas ilegal di wilayah Sukabumi dan Banten, dengan luas kawasan terdampak mencapai sekitar 439 hektare.

“Dari 439 hektare kerusakan, kerugian yang dihitung sementara mencapai Rp350 miliar. Angka ini diperkirakan masih akan bertambah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Balai TNGHS, Budi Chandra, mengatakan bahwa pihaknya bersama TNI-Polri terus melakukan patroli setiap pekan. Namun luas kawasan mencapai 105 ribu hektare membuat pengawasan tidak dapat dilakukan secara menyeluruh.

“Setiap minggu kami melakukan patroli ke dalam hutan dan mendata lubang-lubang baru untuk ditutup. Tapi luasnya kawasan membuat kami harus membagi wilayah patroli,” tutur Budi.

Penulis: Sandi Sudrajat
Editor: TB Ahmad Fauzi