Beranda Berita Premiun Sampah Jadi Berkah: Perempuan Tegalratu Gerakkan Ekonomi Sirkular dari Rumah

Sampah Jadi Berkah: Perempuan Tegalratu Gerakkan Ekonomi Sirkular dari Rumah

Ibu-ibu di Tegalratu saat mengikuti sosialisasi terkait pengelolaan sampah. (Foto: Istimewa)

CILEGON – Di tengah hiruk pikuk kawasan industri Ciwandan, Kelurahan Tegalratu, Kota Cilegon menyimpan cerita inspiratif dari balik dapur-dapur rumah tangga. Sekelompok ibu rumah tangga di sana kini tidak sekadar mengurus urusan domestik—mereka menjadi pionir gerakan ekonomi sirkular berbasis sampah, membawa perubahan nyata bagi lingkungan dan penghidupan mereka.

Gerakan ini lahir dari kolaborasi antara ESWKA Foundation dan PT Krakatau Bandar Samudera (KBS). Melalui program pemberdayaan berbasis Bank Sampah Induk, para perempuan ini diajak untuk melihat sampah sebagai sumber daya, bukan semata-mata limbah.

Dari Dapur ke Bank Sampah

Setiap pagi, para ibu di Tegalratu memisahkan sampah rumah tangga—memilah plastik, botol, dan kardus yang biasanya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Kini, sampah-sampah itu disetor ke Bank Sampah yang berada di lingkungan masing-masing. Di sanalah sampah ‘ditabung’, lalu dicatat dan dikonversi menjadi nilai ekonomi.

“Lewat program ini, sekitar 30 persen sampah rumah tangga bisa termanfaatkan secara bijak,” kata Nur Cholis, Direktur Eksekutif ESWKA Foundation, Selasa (29/7/2025).

Ia menekankan bahwa pengelolaan dilakukan secara lokal, sehingga sampah bernilai tidak lagi menumpuk di TPA Bagendung.

Program ini bukan hanya soal pengolahan sampah, melainkan transformasi sosial—di mana para perempuan menjadi penggerak utama perubahan di komunitas mereka.

Perempuan, Pahlawan Ekonomi Sirkular

Yang menarik, program ini menempatkan para ibu rumah tangga bukan hanya sebagai peserta, tapi juga sebagai local heroes—pemimpin perubahan di tingkat kampung. Mereka aktif memberikan edukasi dari pintu ke pintu, membagikan cara memilah dan memanfaatkan sampah, serta membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan.

“Program ini menyasar kelompok rentan, termasuk perempuan. Karena kami percaya, dari tangan mereka, perubahan bisa dimulai,” ujar Abdulloh, VP Corporate Secretary PT KBS.

Baca Juga :  Antisipasi Banjir, PT KBS Buka Jalur Exim untuk Umum

Menurutnya, KBS mendukung melalui edukasi dan pelatihan agar kelompok-kelompok yang terbentuk nantinya bisa mandiri dan berkelanjutan. “Harapannya, terbentuk kelompok-kelompok inisiatif yang mampu menjalankan ekonomi sirkular dari akar rumput,” tambahnya.

Lingkungan Sehat, Dompet Ikut Sehat

Dengan sampah sebagai pintu masuk, program ini sebenarnya menyentuh dua sisi sekaligus: lingkungan dan ekonomi. Dari hasil tabungan sampah, warga bisa menukarnya dengan kebutuhan pokok, uang tunai, atau bahkan modal usaha kecil.

Lebih dari itu, gerakan ini juga menumbuhkan rasa percaya diri di kalangan perempuan—bahwa mereka bisa jadi agen perubahan, bukan hanya untuk rumah tangga mereka, tapi juga untuk lingkungan yang lebih luas.

“Ini bukan sekadar program daur ulang, tapi gerakan kewirausahaan berbasis lingkungan. Sampah bisa menghasilkan uang, dan lingkungan pun lebih sehat,” tutup Cholis.

Menuju Masyarakat Mandiri dan Berdaya

Langkah kecil para ibu di Tegalratu perlahan menjadi langkah besar bagi Kota Cilegon dalam mengurangi ketergantungan pada TPA. Lebih dari itu, inisiatif ini membuktikan bahwa solusi lingkungan bisa dimulai dari rumah, dari tangan perempuan, dan dari kesadaran kolektif yang tumbuh dari bawah.

Ketika sampah tak lagi dibuang, tapi dikelola dan dihargai, saat itulah masyarakat bergerak menuju kemandirian—membawa semangat keberlanjutan dari halaman rumah sendiri.

Penulis: Maulana
Editor: Usman Temposo