Beranda Sosial dan Budaya Samaun Bakri, Saksi Perumusan Naskah Proklamasi yang Jadi Wakil Residen Banten

Samaun Bakri, Saksi Perumusan Naskah Proklamasi yang Jadi Wakil Residen Banten

784
0
Samaun Bakri (kiri) dan Soekarno (kanan) di depan rumah Soekarno di Bengkulu, 1939. (Foto : dokumen Fuad S Bakri)

 

Bagi warga Kota Serang, nama Samaun Bakri tidak asing sebagai nama jalan yang menghubungkan Jalan Raya Banten Lama dan Jalan Trip Jamaksari. Siapakah sebenarnya Samaun Bakri?

Samaun lahir pada 28 April 1908 di Nagari Kurai Taji, Sumatra Barat, dari pasangan Bagindo Abu Bakar dan Siti Syarifah. Samaun mengenyam pendidikan Vervolgschool setara sekolah menengah pertama, Sumatra Thawalib di Padang Panjang, kursus-kursus politik, dan bahasa asing. Awal tahun 1926 dia bekerja di kantor residen Padang. Namun, baru beberapa bulan bekerja dia keluar karena tak terima dengan keangkuhan orang Belanda.
Pada 1929, dia menjadi wartawan suratkabar Persamaan. Melalui harian ini, dia mengkritik pemerintah kolonial, seperti kontrolir Pariaman, Spits. Sehingga, Spits melalui kepala Nagari Kurai Taji, Moehammad Noer Majolelo, mengusir Samaun. Majolelo, yang masih keluarganya, membekali Samaun tujuh ringgit.



Bersama keluarganya, Samaun pergi ke Medan, kemudian ke Bengkulu. Di sini dia aktif di Muhammadiyah dan sebagai wartawan suratkabar Sasaran. Karena dibredel pemerintah kolonial, dia mendirikan suratkabar Penabur.

Di Bengkulu, Samaun berteman akrab dengan Sukarno. Ia memimpin penyambutan Sukarno yang dipindahkan dari tempat pengasingan Ende ke Bengkulu pada 14 Februari 1938.

Setelah bebas dari pengasingan di Bengkulu, Sukarno menjadikan Samaun Bakri sebagai utusan dalam menyampaikan pesan atau bingkisan untuk kekasihnya, Fatmawati.

Samaun bersama Abdul Karim Oey dan dr Djamil mengurus pernikahan Fatmawati dengan Sukarno yang diwakilkan teman dekatnya, opseter (pengawas) Sarjono, pada 1 Juni 1943. Samaun kemudian membawa Fatmawati dan orangtuanya ke Jakarta.

“Rombongan kami terdiri dari ayah, ibu, saudara Samaun Bakri (utusan Bung Karno), paman ibuku Moh. Kancil (penjahit pakaian Bung Karno waktu di Bengkulu) dan aku sendiri,” kata Fatmawati dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno Volume 1 yang dikutip Historia.

Menjelang detik-detik kemerdekaan, Samaun bersama golongan muda seperti Sayuti Melik, BM Diah, Adam Malik, dan Sukarni menjadi saksi perumusan naskah proklamasi kemerdekaan. Samaun juga hadir ketika Sukarno membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945.

Pascakemerdekaan, Samaun menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili Jawa Barat plus anggota Badan Pekerja KNIP. Dia juga sempat menjadi pembantu Walikota Jakarta Soewirjo.

Ketika Sekutu datang, Samaun dan keluarga meninggalkan tempat tinggalnya sejak pendudukan Jepang di Jalan Maluku No 5 Menteng, Jakarta, dan pergi ke Jawa Barat. Dia menjadi sekretaris penjabat Gubernur Jawa Barat Mr Datuk Djamin merangkap anggota Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) yang memutuskan membumihanguskan kota Bandung pada 23 Maret 1946. Untuk mengenang peristiwa yang dikenal sebagai Bandung Lautan Api itu, Samaun menulis buku Setahoen Peristiwa Bandoeng.

Dari Jawa Barat, Samaun diangkat menjadi wakil residen Banten pada 1947. Dia ditugaskan pemerintah pusat di Yogyakarta mengangkut 20 kg emas dari tambang emas Cikotok untuk membeli pesawat. Emas tersebut diangkut dengan pesawat Dakota RI-002 milik Bobby Earl Freeberg. Pesawat lepas landas dari lapangan udara Gorda, Serang, menuju Tanjung Karang Lampung. Namun, dari Tanjung Karang menuju Bukittinggi, pesawat hilang kontak pada 1 Oktober 1948

Reruntuhan pesawat baru ditemukan pada 14 April 1978 di bukit Punggur, Lampung. Kerangka Samaun bersama empat awak pesawat lainnya –anehnya kerangka Bob Freeberg tidak ada– dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tanjung Karang pada 29 Juli 1978. Samaun menerima penghargaan Bintang Mahaputera Utama dari pemerintah Indonesia tahun 2002. (ink/red)