Beranda Budaya Saksi Tiga Zaman, Water Toren Rangkasbitung Kini Jadi Penjaga Ingatan

Saksi Tiga Zaman, Water Toren Rangkasbitung Kini Jadi Penjaga Ingatan

Water Toren Rangkasbitung salah satu cagar budaya dan destinasi wisata edukasi sejarah. (Mg-Aldo Marantika/Bantennews)

LEBAK – Di persimpangan Jalan RT Hardiwinangun, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, sebuah menara setinggi sekitar 9 meter berdiri tegak. Namanya Water Toren Rangkasbitung.

Usianya hampir satu abad. Struktur bata dan bentuk bangunannya masih menyimpan wajah masa lalu, meski cat dan kawasan di sekitarnya kini tampil lebih modern.

Bagi warga lanjut usia, menara itu menyimpan cerita tentang kebutuhan air bersih. Bagi generasi muda, Water Toren kini menjadi ruang untuk mengenal sejarah sekaligus berburu foto.

Warga setempat, Ilham, menuturkan pemerintah Hindia Belanda membangun Water Toren pada 1931. Saat itu, menara tersebut menopang sistem distribusi air bersih ke rumah-rumah warga Rangkasbitung.

“Di era itu, menara air merupakan simbol modernitas. Kota kecil ini mulai punya tekanan air, pipa dan harapan hidup lebih sehat,” kata Ilham kepada BantenNews.co.id, Sabtu (15/8/2026).

Water Toren menjalankan fungsi distribusi air hingga sekitar 1970. Setelah itu, warga tak lagi menggunakannya untuk kebutuhan air, tetapi bangunannya tetap bertahan.

Puluhan tahun kemudian, menara itu kembali menarik perhatian.

Ilham menyebut Water Toren sebagai saksi perjalanan tiga zaman, yaitu masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga masa kemerdekaan Indonesia. Dari tempatnya berdiri, menara itu menyaksikan Rangkasbitung tumbuh dari kota kecil hingga menjadi ibu kota Kabupaten Lebak.

“Water Toren ini saksi bisu tiga zaman. Bangunan ini tetap kokoh berdiri seolah menyaksikan Rangkasbitung yang tumbuh dari kota kecil administrasi menjadi ibu kota Kabupaten Lebak,” ujarnya.

Jika dinding bisa bercerita, mungkin Water Toren punya terlalu banyak kisah untuk diceritakan.

Dari Menara Air Jadi Ruang Sejarah

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak mulai mengubah wajah Water Toren pada 2022. Pemkab menata kawasan tersebut dan menjadikannya bagian dari cagar budaya serta destinasi wisata edukasi sejarah.

Baca Juga :  Seba ke Pandeglang, Warga Baduy Titipkan Pelestarian Alam

Perubahan itu membuat bangunan yang sebelumnya hanya dilewati warga kembali mendapat perhatian.

Pengunjung kini dapat melihat bagian dalam menara, termasuk struktur bangunan, tangga besi dan pipa tua yang menjadi bagian dari sistem distribusi air pada masa lalu.

Di luar bangunan, bentuk arsitektur kolonial membuat Water Toren punya daya tarik tersendiri. Menjelang malam, lampu hias membuat menara itu semakin mencolok di tengah kawasan perkotaan.

Pelajar, komunitas sejarah, keluarga hingga pemburu konten datang silih berganti.

“Dulu kita ke sini cuma lewat. Sekarang bawa anak buat menjelaskan sejarah sambil jajan dan kulineran,” kata Ilham.

Water Toren akhirnya menemukan fungsi baru. Ia tak lagi mengalirkan air ke rumah-rumah warga, tetapi mengalirkan cerita tentang masa lalu kepada generasi hari ini.

Di tengah kota yang terus berubah, menara tua itu menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu berarti merobohkan yang lama.

Kadang, sebuah bangunan cukup berdiri dan membiarkan waktu menjelaskan nilainya.

“Mungkin itu fungsi barunya, bukan lagi menyalurkan air, tetapi mendistribusikan ingatan,” tandas Ilham.

Penulis : Mg-Aldo Marantika
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd