Suasana hangat terasa saat sekelompok pemuda dan pegiat lintas iman memasuki salah satu rumah ibadah di Kota Serang. Mereka datang bukan untuk berdebat, tetapi untuk saling mengenal dan berdialog.
Komunitas Gusdurian Serang Raya menggelar program Safari Keberagaman pada 8–15 Maret 2026. Dalam kegiatan ini, para peserta berkunjung ke sejumlah rumah ibadah seperti GKRS, HKBP, GKI, hingga Vihara Avalokitesvara.
Di setiap tempat, mereka duduk bersama pengurus rumah ibadah, berbincang tentang kehidupan beragama, pengalaman hidup berdampingan, hingga cara menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.
Koordinator Gusdurian Serang Raya Sahril Anwar mengatakan kegiatan ini terinspirasi dari nilai kemanusiaan yang diwariskan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
“Perbedaan bukan penghalang untuk saling mengenal. Justru dari pertemuan seperti ini kita bisa membangun kepercayaan dan menjaga kedamaian,” kata Sahril, Minggu (15/3/2026).
Salah satu kunjungan berlangsung di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Serang. Pendeta Benny Halim menyambut para peserta dan membuka ruang dialog yang santai.
Ia menilai pertemuan langsung seperti ini mampu memperkuat hubungan antarumat beragama.
“Kehadiran teman-teman Gusdurian menunjukkan bahwa persaudaraan lintas iman masih kuat,” ujarnya.
Percakapan mengalir ringan. Peserta saling bertanya tentang tradisi ibadah, kegiatan sosial, hingga pengalaman menjaga kerukunan di lingkungan masing-masing.
Generasi muda juga ikut aktif dalam diskusi. Mereka menyampaikan gagasan tentang cara merawat toleransi di tengah arus informasi dan polarisasi yang kerap muncul di media sosial.
Safari Keberagaman tidak sekadar kunjungan simbolik. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan yang menghadirkan dialog, empati, dan rasa saling percaya.
Melalui pertemuan sederhana di rumah-rumah ibadah itu, para peserta mencoba membuktikan satu hal: perbedaan keyakinan tidak menghalangi persahabatan.
Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah
