Beranda Sosok Saat Lukisan Bicara tentang Dunia yang Retak

Saat Lukisan Bicara tentang Dunia yang Retak

Seniman Ikhwan Sugianto memamerkan pikirannya dalan lukisan distopia (Rasyid/BantenNews.co.id)

SERANG  – Di sebuah sudut hangat Kopi Rona, aroma kopi yang biasanya mengundang percakapan santai kini berbaur dengan tafsir sunyi tentang dunia yang retak. Dinding-dindingnya tak lagi sekadar latar, melainkan kanvas kegelisahan—tempat di mana 51 lukisan karya Ikhwan Sugianto berbicara tanpa suara. Sabtu (11/4/2026), ruang itu berubah menjadi ruang renung, ketika pengunjung datang bukan hanya untuk menyeruput kopi, tetapi juga menyelami makna.

Ini adalah pameran tunggal kedua Ikhwan dalam lima tahun terakhir. Ia mengusung tema distopia—sebuah konsep yang ia posisikan sebagai kebalikan dari utopia. Jika utopia kerap dipahami sebagai gambaran dunia ideal layaknya surga, maka distopia, dalam tafsirnya, mendekati gambaran neraka: penuh ketidakpastian, rapuh, dan kehilangan arah. “Manusia itu rapuh, mudah sekali kehilangan identitasnya,” ucapnya.

Di antara puluhan karya yang dipamerkan, satu judul yang mencuri perhatian adalah Anonymousis. Istilah ini ia ciptakan dari dua kata—anonim dan “-osis”, yang merujuk pada sebuah proses. Bagi Ikhwan, Anonymousis adalah proses menjadi tanpa identitas. Sebuah refleksi tentang manusia modern yang perlahan kehilangan jati diri di tengah kompleksitas dunia.

Inspirasi karya-karyanya lahir dari berbagai lapisan realitas: konflik sosial, peperangan, hingga isu kesehatan mental. Namun ia juga melihat keterhubungan yang unik antara tubuh manusia dan alam, lalu meramunya menjadi simbol visual tentang dunia yang rapuh. Dalam kanvasnya, batas antara manusia dan alam seakan melebur—menjadi metafora tentang ketidakpastian yang terus membayangi kehidupan.

Pendekatan teknis yang ia gunakan memperkuat pesan tersebut. Ikhwan memadukan teknik impasto dengan sapuan tebal, plakat yang solid, glazing yang transparan, hingga underpainting sebagai fondasi visual. Perpaduan ini menghasilkan kedalaman yang tidak hanya terlihat, tetapi juga terasa secara emosional.

Baca Juga :  Ketum Terumbu Meninggal, Banten Kehilangan Sosok yang Angkat Muruah Budaya

Bagi Dede selaku penyelenggara, pameran ini adalah bagian dari upaya menghadirkan ruang alternatif bagi seni di tengah kehidupan sehari-hari. Ia ingin menjadikan Kopi Rona bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi juga ruang kreatif yang membuka dialog antara seniman dan masyarakat. Seluruh karya akan dipajang selama tiga bulan ke depan, memberi kesempatan bagi publik untuk berinteraksi dengan karya-karya tersebut.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Wakil Wali Kota Serang, Nur Agis Aulia. Ia menilai pameran seni seperti ini tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat.

Menurutnya, potensi seni dan budaya di Kota Serang cukup besar untuk dikembangkan sebagai identitas daerah sekaligus daya tarik wisata, terutama jika ada kolaborasi yang kuat antara seniman dan pelaku usaha.

Di antara cangkir kopi dan percakapan yang mengalir pelan, lukisan-lukisan Ikhwan menghadirkan kegelisahan yang tak bisa diabaikan. Sebuah dunia yang mungkin tidak nyaman untuk dilihat, tetapi terasa begitu dekat untuk diakui. Di sanalah seni menemukan perannya—bukan sekadar menghadirkan keindahan, melainkan juga menyentuh kesadaran.

Penulis: Rasyid
Editor: Usman Temposo