Beranda Peristiwa Rumput Laut Asal Banten Jadi Primadona Dunia

Rumput Laut Asal Banten Jadi Primadona Dunia

426
0
Acara meluncurkan aplikasi sekaligus melepas ekspor empat komoditas pertanian asal Banten di Tegalratu, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon Cilegon, Banten, Rabu (14/8/2019).

CILEGON – Tren kebutuhan dunia akan ekspor produk pangan lokal terus meningkat. Hal ini seperti dapat dilihat pada data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat peningkatan ekspor komoditas pertanian sejak 2013 hingga 2019 sebesar 28,6 persen.

Peningkatan eksportasi komoditas pertanian juga terlihat dari data sistem otomasi perkarantinaan, IQFAST di wilayah kerja Karantina Pertanian Cilegon. Dimana produk yang berasal dari Banten juga ambil bagian di antaranya rumput laut.

Untuk itu, Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Cilegon sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Karantina Pertanian (Barantan) menyiapkan inovasi berorientasi ekspor berupa Klinik Ekspor. Klinik berupa aplikasi ini tersedia dalam dua format yaitu konsultasi langsung dan melalui website Karantina Pertanian Cilegon.

“Ini kerja berdampak, yang harus kita dorong. Dengan aplikasi ini akan berdampak bagi kemudahan dan percepatan layanan,” kata Ali Jamil, Kepala Barantan saat meluncurkan aplikasi ini sekaligus melepas ekspor empat komoditas pertanian asal Banten di Tegalratu, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, Rabu (14/8/2019).

Empat komoditas itu masing-masing dedak gandum, rumput laut, tepung pati jagung dan maltodextrine yang mencapai nilai Rp4,56 miliar.

Dikatakan bahwa, produk unggulan dari Banten yakni potensi rumput laut. Dimana komoditas rumput laut asal Banten mulai diminati pasar dunia. Dikatakan Jamil, selain ketiga komoditas yang dilepas kali ini, khusus komoditas rumput laut adalah juga komoditas wajib periksa karantina tumbuhan, sehingga harus dipastikan keamanannya oleh petugas karantina melalui pemeriksaan dan penerbitan Phytosanitary Certificate (PC).

“Pasarnya mulai bertumbuh, negara di Asean, Asia dan ke depan semoga bisa bertambah negara tujuannya, potensinya besar,” jelasnya.

Barantan adalah pembuka akses ekspor melalui protokol karantina pertanian dan penjaminan kesehatan atau bebas organisme pengganggu tumbuhan karantina dengan penerbitan Phytosanitary Certificate (Sertifikat kesehatan komoditas ekspor).

“Kami menargetkan akselerasi ekspor bisa meningkat sebesar 200 persen. Untuk mencapai target diperlukan berbagai upaya kolaboratif Pemerintah dengan Pemerintah Daerah, Kelompok Tani serta Pelaku Usaha melalui implementasi Permentan nomor 19 Tahun 2019 tentang Pengembangan Ekspor Komoditas Pertanian,” tambahnya.

Berdasarkan data sistem otomasi IQFAST Karantina Pertanian Cilegon, data ekspor Januari hingga 12 Agustus 2019 tercatat rumput laut dengan volume 96 ton diekspor ke China mencapai nilai Rp2,4 miliar, ekspor dedak gandum dengan negara tujuan Cina, Papua Nugini, Filipina dan Vietnam sebanyak 8,1 ribu ton atau setara dengan Rp20,9 miliar, corn strach diekspor ke Thailand dan Vietnam dengan volume 1,6 ribu ton atau senilai Rp7,9 miliar.

Jika ditotalkan ekspor komoditas pertanian secara keseluruhan selama 2019 telah mencapai nilai Rp274,6 miliar. Sepanjang 2018, nilai ekspor mencapai Rp647,4 miliar dan dedak gandum menjadi komoditas unggulan asal Banten yang diekspor ke China dengan volume 63 ribu ton dan nilai ekonomi mencapai Rp210 miliar. Sedangkan rumput laut menjadi komoditas primadona yang baru diekspor tahun ini.

Sementara itu, Kepala Karantina Pertanian Cilegon, Raden Nurcahyo Nugroho, menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen tinggi memastikan ketentuan Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS) dalam hal eksportasi rumput laut yang harus dipenuhi yang dipersyaratkan oleh negara tujuan. Tanpa pemeriksaan dan sertifikasi dari karantina, komoditas ini tidak akan mungkin diekspor. Pelayanan Karantina Pertanian Cilegon 24 jam setiap hari dengan jadwal piket petugas yang memadai.

Pada kesempatan yang sama, juga dilakukan inovasi lainnya yakni DetLain (Daring Penetapan Tempat Lain) & i-Pec (In-Line Inspection).

DetLain adalah Daring Penetapan Tempat Lain, dimana aplikasi ini diperuntukkan bagi para eksportir dalam memproses Penetapan Tempat atau Lokasi atau Area pemeriksaan karantina secara cepat, terkendali dan realtime. Sedangkan i-Pec adalah In-line Inspection, merupakan aplikasi diperuntukkan bagi para eksportir dalam memperoleh kemudahan pemeriksaan ekspor berkala secara cepat, terkendali dan realtime.

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang menginstruksikan seluruh jajaran untuk terus memperkuat kesisteman perkarantinaan sekaligus mendorong ekspor komoditas pertanian.
“Kawal terus akselerasi ekspor komoditas pertanian, permudah dan layani eksportir, agar makin laris produk kita. Ini pesan pak Mentan,” pungkas Jamil. (Man/Red)