LEBAK — Di tengah denyut Kota Rangkasbitung, sebuah rumah tua tetap berdiri di Jalan R.T. Hardiwinangun. Catnya mungkin tak lagi semeriah bangunan baru di sekitarnya, tetapi rumah itu menyimpan cerita panjang tentang pendidikan dan kebudayaan di Lebak.
Warga mengenalnya sebagai Rumah Mr. Soetadisastra.
Bangunan yang berdiri sejak era 1900-an itu bukan sekadar peninggalan arsitektur. Rumah tersebut menyimpan jejak seorang tokoh yang ikut memikirkan masa depan pendidikan dan kebudayaan di Lebak.
Bagi Santi, warga sekitar, rumah itu sudah menjadi bagian dari ingatan sejak ia kecil. Bentuk bangunannya yang klasik selalu menarik perhatian warga yang melintas.
“Sejak saya kecil bangunan ini sudah berdiri. Rumahnya klasik banget, katanya dulu tempat tinggal tokoh pendidikan besar,” kata Santi kepada Bantennews, Rabu (19/8/2026).
Santi memang belum pernah masuk ke dalam rumah tersebut. Namun, cerita tentang Mr. Soetadisastra terus mengalir dari orang tua kepada generasi berikutnya.
Ia mendengar kisah tentang sosok yang peduli terhadap pendidikan dan kebudayaan serta terus mencari gagasan untuk mendorong kemajuan pendidikan di Lebak.
“Dulu beliau itu orang yang peduli terhadap dunia pendidikan dan budaya. Katanya beliau sering membuat gagasan untuk kemajuan pendidikan di sini. Makanya sampai sekarang rumahnya masih dirawat,” ujarnya.
Rumah yang Menyimpan Gagasan
Rumah Mr. Soetadisastra memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada usianya. Catatan sejarah mengenal Soetadisastra sebagai tokoh pendidikan dan kebudayaan Banten yang memberi perhatian besar terhadap kemajuan pendidikan, khususnya bagi masyarakat Lebak.
Pada awal abad ke-20, rumah itu menjadi bagian dari kehidupan sang tokoh. Dari tempat tersebut, gagasan tentang pendidikan, budaya lokal, hingga nilai kebangsaan tumbuh dan berkembang.
Karena itu, bagi warga, mempertahankan rumah tersebut bukan sekadar menjaga bangunan lama. Mereka juga menjaga jejak pemikiran yang pernah mengiringi perjalanan pendidikan di Lebak.
“Kita harus bangga punya peninggalan seperti ini. Ini bukan cuma rumah tua, tapi ada nilai perjuangan, ilmu dan identitas Lebak di dalamnya,” kata Santi.
Kini rumah tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku. Bangunan tua juga dapat menjadi pintu untuk mengenali orang-orang yang pernah bekerja dan berpikir untuk masa depan daerah.
“Melestarikan warisan sejarah itu sama saja menjaga jati diri dan menginspirasi masa depan,” ujarnya.
Santi berharap generasi muda tidak sekadar melewati rumah itu tanpa mengetahui cerita di baliknya. Ia ingin anak-anak muda mengenal Mr. Soetadisastra dan memahami kontribusinya terhadap pendidikan dan kebudayaan Lebak.
“Saya harap anak-anak muda sekarang mau datang, melihat, dan tahu siapa Mr. Soetadisastra. Supaya mereka tahu kalau di Lebak juga punya tokoh yang hebat,” tuturnya.
Upaya menjaga rumah tersebut terus mendapat perhatian pemerintah dan komunitas budaya di Lebak. Mereka ingin Rumah Mr. Soetadisastra tetap menjadi ruang belajar sejarah, bukan sekadar bangunan tua di tengah kota.
Sebab, ketika bangunan itu hilang, bukan hanya tembok dan genteng yang ikut lenyap. Sebagian jejak perjalanan pendidikan dan kebudayaan Lebak juga bisa ikut terhapus.
“Karena sejarah, kalau tidak dijaga bisa hilang, padahal itu jati diri kita,” tandas Santi.
Penulis : Mg-Aldo Marantika
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
