Beranda Pendidikan Riset Setara Institut Sebut Fundamentalisme Agama di UIN Ciputat Meningkat

Riset Setara Institut Sebut Fundamentalisme Agama di UIN Ciputat Meningkat

576
0
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta atau Ciputat - foto istimewa bondowosoasri.blogspot.com

TANGSEL – Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta atau Ciputat sudah sejak dulu dikenal banyak orang sebagai kampus pembaharu, inklusif, bahkan liberal dalam hal keagamaan.

Kampus yang terletak di Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan itu, tidak bisa dilepaskan dari tokoh-toko intelektual seperti almarhum Harun Nasution, almarhum Munawir Sadzili, almarhum Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, Zainun Kamal, dan masih banyak lagi.

Sementara tokoh-tokoh tersebut tidak bisa dilepaskan dari organisasi-organisasi di belakangnya seperti Pergetakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci), dan lain-lain.

Semua itu membuktikan bahwa kampus tersebut seperti tidak mungkin ada fundamentalisme agama karena dijaga oleh tokoh-tokoh tersebut.

Namun sekarang, pandangan itu sepertinya pudar. Berdasarkan hasil survei Setara Institute soal model beragama pada 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia, dimana Hasilnya responden yang diteliti dari mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan UIN Bandung menunjukkan bercorak agama fundamentalis.

“Fundamentalisme beragama bisa menjadi akar eksklusivisme dan perilaku intoleran, jika visi fundamentalisme dipaksakan di ranah kehidupan sosial,” kata peneliti Setara Institute Noryamin Aini di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Minggu (30/6/2019) lalu.

Dalam penelitian tersebut, Setara Institute menggunakan metode kuantitatif. Jumlah responden mencapai 1.000 orang dari 10 PTN di Indonesia. Ke-10 kampus yang diteliti yakni Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Universitas Mataram, UIN Jakarta, dan UIN Bandung.

Adapun untuk mengukur fundamentalisme dalam pandangan agama, peneliti menanyakan persetujuan atas beberapa pernyataan kepada responden sebagai berikut:

1. Jalan keselamatan dunia dan setelah mati hanya terdapat dalam ajaran agamaku.

2. hanya ajaran agamaku yang bisa menjawab tuntas segala kebutuhan rohani setiap manusia.

3. Ajaran agamaku sudah sempurna, dan saya tidak memerlukan pedoman tambahan di luar agama.

4. Hanya ajaran agamaku yang dapat mewujudkan keadilan bagi masyarakat Indonesia.

5. Indonesia menjadi aman jika semua penduduknya seagama denganku.

“Semakin tinggi nilai yang diperoleh dari kelima pernyataan di atas, maka semakin tinggi fundamentalisme beragama responden,” kata Nuryamin.

“Responden di UIN Bandung mendapat poin 45,0 dan UIN Jakarta mendapat poin 33,0. Lebih lanjut, Universitas Mataram mendapat 32,0 poin; IPB mendapat poin 24,0 poin; UNY mendapat poin 22,0 poin. Kemudian, UGM memperoleh 12,0 poin; Universitas Brawijaya memperoleh 13,0 poin; ITB mendapat 10,0 poin; Unair mendapat poin 8,0; dan UI memperoleh poin 7,0,” bebernya. (Ihy/Red)