Beranda Advertorial Ringankan Biaya Berobat, Penderita Hipertensi Ini Akui JKN-KIS Mampu Tingkatkan Taraf Kesehatan...

Ringankan Biaya Berobat, Penderita Hipertensi Ini Akui JKN-KIS Mampu Tingkatkan Taraf Kesehatan Keluarga

452
0
Siti Romlah. (Foto : ist)

 

PANDEGLANG – Siti Romlah (44), warga Kampung Tapen RT 002/ RW 003, Desa Cadasari, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang mengakui program Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan sangat meringankan biaya hidup keluarganya. Sejak bergabung jadi peserta aktif BPJS Kesehatan, ia  mendapat banyak wawasan soal dunia kesehatan dari dokter dan petugas medis.

Ia  sejak 1999 menderita hipertensi. Ia harus rutin berobat ke puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk mengontrol kesehatannya. Makanya ia dan keluarganya bersyukur ada program JKN-KIS. “Keuntungan jadi peserta BPJS kesehatan ini banyak, selain meringankan biaya medis, banyak wawasan dan pengetahuan yang didapat, karena sering diajak beragam kegiatan terkait dunia kesehatan,” ujarnya.

“Sangat terbantu lah adanya program BPJS kesehatan. Karena sekarang sudah ada kartu. Jadi saya rutin berobat menggunakan kartu JKN-KIS, ” ujarnya seraya mengakui  rutin cek up kesehatannya bergantung pada kartu JKN-KIS.

Ibu rumah tangga Penerima Bantuan Iuran dari pemerintah ini mengatakan menjadi peserta BPJS Kesehatan sejak dari 2010. Menurutnya program JKN KIS meringankan biaya medis ketika sakit. Jadi banyak membantu untuk warga tidak mampu.
“Karena sebelum ada JKN KIS, saya dan keluarga merasa sulit banget mencari uang ketika mau berobat ke rumah sakit. Waktu itu pernah dioperasi dan harus punya uang 7 juta. Terpaksa saya harus ngutang sana-sini dan gadai barang orang tua,” ujarnya.

Ia menjelaskan keberadaan JKN-KIS pengaruhnya besar terhadap kelangsungan hidupnya. Karena ia merasa berat jika hanya mengandalkan penghasilan suami untuk mengobati penyakit hipertensinya. Penghasilan suami hanya cukup untuk makan dan minum saja, meskipun ia meyakini kebutuhan makan dan minum, Tuhan sudah mencukupinya.
Ia berharap program BPJS Kesehatan dapat terus berlanjut. Menurutnya pemerintah dan masyarakat harus gotong royong membantu program BPJS kesehatan untuk bekerja lebih optimal melayani warga yang kesulitan membayar ke fasilitas kesehatan. “Jadi program JKN-KIS harus diperkuat. Jangan sampai bubar lah, saya harus gimana kalau gak ada BPJS Kesehatan,” ujarnya.

Bendahara JKN Puskesmas Cadasari Lilis Suprihatiningsih mengatakan, dalam melayani pasien, Puskesmas tidak membeda-bedakan antara peserta BPJS Kesehatan atau umum. “Kita kondisional saja, jika mendapati pasien dalam keadaan darurat,” ujarnya.

Pegawai Puskesmas Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten. (Ist)

Ia mengatakan sekitar 23 ribu peserta yang yang terdaftar sebagai peserta BPJS kesehatan di puskesmas Cadasari. Dan rata-rata kunjungan pasien perbulan mencapai 10.226 pasien sehat dan 1.046 kunjungan pasien yang sakit. “Penyakit yang pailng banyak dikeluhkan di antaranya hipertensi, paru-paru dan gangguan lambung,” ujarnya.

Ia mengatakan jumlah pasien yang berkunjung memang banyak. Karena di puskesmas Cadasari menyediakan banyak dokter, tidak seperti di puskesmas lain. Sehingga banyak warga yang memilih puskesmas Cadasari. “Seluruhnya tenaga medis 65, dokter 3 umum, dokter gigi 1, bidan 25, perawat 19 yang separuhnya perawat dan dokter internsip,” ujarnya. (Advetorial)