
KAB. SERANG – Suara canda warga bercampur dengan percakapan dalam bahasa Jepang di Kampung Ciseke, Desa Batukuwung, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang. Selama 10 hari, 20 mahasiswa dan pelajar Jepang tidak sekadar datang membawa tenaga untuk membangun jembatan.
Mereka datang untuk mengenal warga, berbagi cerita, dan pulang membawa pengalaman tentang Indonesia.
Para relawan yang tergabung dalam The Global Organization of Dreamers (GOOD!) menjalankan bakti sosial (baksos) bersama Fesbuk Banten News pada 13–23 Agustus 2026. Mereka tinggal di rumah warga dan menjalani aktivitas sehari-hari bersama masyarakat.
Di tengah agenda itu, mereka mengerjakan proyek jembatan sepanjang 10 meter dengan lebar 1,5 meter di Kampung Ciseke. Jembatan tersebut akan mempermudah mobilitas warga dalam menjalankan aktivitas pendidikan, ekonomi, dan sosial.
Namun, pekerjaan fisik bukan satu-satunya cerita dari kedatangan mereka.
Para relawan memilih tinggal di rumah warga. Pilihan itu membuat jarak antara tamu dan tuan rumah cepat mencair.
Warga Kampung Ciseke dan Kampung Suarna menyambut mereka dengan antusias. Sejumlah pelajar bahkan mengenakan seragam pramuka saat menyambut kedatangan rombongan Jepang.
Direktur Fesbuk Banten News, Lulu Jamaludin mengatakan, perjumpaan tersebut membuka ruang interaksi yang lebih luas daripada sekadar kegiatan sosial.
“Warga sangat antusias. Ini bukan hanya kegiatan sosial, tetapi juga menjadi ruang bertemu dan belajar antarbudaya,” ujar Lulu di Padarincang, Jumat (14/8/2026).
Kehadiran para relawan juga mendapat sambutan dari Pemerintah Kabupaten Serang. Sekretaris Daerah Kabupaten Serang Zaldi Dhuhana menerima rombongan di Pendopo Bupati Serang pada Kamis (13/8/2026).
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Serang, kami mengucapkan terima kasih. Kami sangat membutuhkan partisipasi semua pihak untuk membangun Kabupaten Serang,” kata Zaldi.
Hari berikutnya membawa para relawan ke sekolah. Mereka bertemu pelajar MTs Al-Khaeriyah Rancaranji dan SMP Negeri 3 Padarincang.
Sekitar 500 pelajar ikut menyambut rombongan. Mereka bertukar cerita tentang budaya Indonesia dan Jepang, mulai dari tarian, kebiasaan sehari-hari, bahasa hingga dialek.
Lulu melihat pertemuan itu sebagai kesempatan bagi anak-anak Serang untuk mengenal dunia dari perspektif yang lebih dekat.
“Antusiasme para siswa luar biasa. Mereka tidak hanya menyambut, tetapi juga aktif berinteraksi dan belajar mengenal budaya Jepang. Begitu pula para relawan Jepang yang mendapat pengalaman langsung mengenal kehidupan dan budaya masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Bagi para pelajar, Jepang yang selama ini mungkin hanya mereka kenal lewat buku, film, atau internet tiba-tiba hadir di depan mata. Sebaliknya, para relawan Jepang melihat langsung kehidupan masyarakat Padarincang, bukan dari cerita atau layar.
Misi Pertama di Indonesia
Koordinator GOOD! Jepang, Koji Isoda mengatakan, kunjungan ke Serang menjadi pengalaman pertama organisasi tersebut menjalankan program sosial di Indonesia.
Sebelumnya, GOOD! telah menjalankan kegiatan serupa di Sri Lanka, Thailand, Mongolia, dan Laos.
“Kami ingin membantu masyarakat lokal sekaligus membangun persahabatan antara pemuda Jepang dan Indonesia,” kata Koji.
Mereka juga mengikuti kegiatan edukasi, mengenal sejarah serta kearifan lokal Serang, dan menyiapkan diri mengikuti rangkaian kegiatan menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Agenda mereka tidak berhenti di Padarincang. Para relawan juga akan mengikuti upacara bendera dan perlombaan rakyat, kemudian mengenal potensi wisata Pantai Anyer serta sejarah dan budaya Kota dan Kabupaten Serang.
Sepuluh hari mungkin terasa singkat. Namun, di Kampung Ciseke, waktu itu cukup untuk mempertemukan dua kelompok anak muda dari negara berbeda dalam satu pekerjaan yang sederhana: membangun jembatan.
Jembatan itu kelak menghubungkan warga dengan aktivitas pendidikan, ekonomi, dan sosial. Tetapi selama proses pembangunannya, jembatan tersebut sudah lebih dulu menghubungkan sesuatu yang tidak terlihat—persahabatan antara anak muda Jepang dan masyarakat Padarincang.
Penulis : Audindra Kusuma
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd