Beranda Hukum Rawan Penyelundupan Narkoba, Ditpolairud Minim Kapal Patroli Awasi Perairan Banten

Rawan Penyelundupan Narkoba, Ditpolairud Minim Kapal Patroli Awasi Perairan Banten

803
0
Kapolda Banten dan Dirpolairud saat akan meresmikan dermaga dan landasan helikopter di Ditpolairud Polda Banten. (Foto : Gilang)

CILEGON – Kapolda Banten, Brigjen Pol Tomsi Tohir mengakui jika wilayah Banten memang tergolong rawan penyelundupan narkotika. Dengan panjang garis pantai yang dimiliki Banten, banyak pelabuhan tikus dan jarak yang dekat dengan ibukota DKI Jakarta, menurutnya menjadikan perairan Banten rawan untuk penyelundupan barang haram tersebut.

“Garis pantainya itu kan luas, jalan-jalan tikus juga cukup banyak kemudian dekat juga dengan Jakarta. Namum kita dengan Insprektorat IV Mabes Polri, bersama-sama berupaya untuk melakukan pengungkapan ini. Dan kita berupaya dengan masyarakat di sini melakukan pencegahan,” ungkap Kapolda usai meresmikan dermaga dan landasan helikopter di Direktorat Kepolisian Air dan Udara (Dirpolairud) Polda Banten, Selasa (4/12/2018).

Pemanfaatan pelabuhan tikus untuk menyelundupkan narkotika dari Bandar Lampung ini terungkap dari penangkapan terduga pelaku sabu dan ekstasi oleh Polres Metro Jakarta Barat di pangkalan nelayan di Kampung Cikubang, Desa Argawana, Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang pada Selasa, 20 November 2018 lalu. Kemudian pada Senin (3/12/2018) kemarin penangkapan terduga kurir sabu-sabu seberat 20 kilogram dilakukan oleh Direktorat Narkoba Mabes Polri di atas Bus ALS yang baru keluar dari Pelabuhan Merak, Kota Cilegon. “Seluruhnya, kita sudah datakan. Kita sudah lakukan upaya-upaya (pengawasan) itu,” jelasnya.

Di tempat yang sama Dirpolairud Polda Banten, Kombes Pol Nunung Saefuddin menambahkan bahwa pengawasan penyelundupan narkotika di perairan Banten belum berjalan optimal karena keterbatasan fasilitas penunjang.

“Garis pantai kita ini sepanjang 428, 6 kilometer, ada pantai utara dan pantai selatan. Khusus di pantai selatan, kita agak kesulitan melakukan patroli karena sarana kita tidak memadai. Ombak besar, angin kencang, kadang membahayakan berisiko untuk anggota kita. Dari sekian banyak pelabuhan tikus, dan dermaga yang selama ini tidak terpantau oleh kita, tentu peluang (penyelundupan) itu cukup besar,” terangnya.

Ditpolairud Banten sendiri memiliki 14 kapal patroli untuk mengawasi perairan di Banten. Jumlah it, menurut Nunung belum memenuhi kebutuhan Ditpolairud yakni sekira 20 armada kapal patroli.

“Personel kita hanya 150 orang. Kalau mencover Banten, standarnya harus lebih dari 200 personel, apalagi kalau nanti (Diptolairud) naik tipe. Kemudian kapal kita ada 14, idealnya 20 lah dari berbagai tipe khususya untuk wilayah pesisir pantai selatan harus berukuran besar, karena wilayahnya besar. Kita berdoa sarana kita bisa dilengkapi. Pak Ketua DPRD Banten juga sudah menginformasikan ke kita, pengajuan untuk kapal tipe C1, insya Allah di tahun 2019 ada,” pungkasnya. (dev/red)