Beranda Pariwisata Rawa Danau, Kaldera Purba Pemasok Air di Banten

Rawa Danau, Kaldera Purba Pemasok Air di Banten

Rawa Dano. (Ist)

SERANG– Rawa Danau bukan sekadar cagar alam yang dijaga kelestariannya. Kaldera atau bekas gunung api purba ini merupakan reservoir alami yang memegang peran strategis sebagai penyangga ketersediaan air bagi Provinsi Banten.

Rawa Danau terletak di sisi barat Banten dengan diapit oleh lima Kecamatan di Kabupaten Serang, yakni Ciomas, Padarincang, Mancak, Gunung Sari, dan Cinangka. Luasan Rawa Danau mencapai 3.541 hektare.

“Karakter Rawa Danau itu tidak bisa seluruhnya mewakili danau. Seperti luasan tutupan perairan dan kedalaman,” kata Kepala Seksi Wilayah I Serang Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Mufti Ginanjar, kepada BantenNews.co.id, Rabu (14/1/2026).

Mufti menjelaskan bahwa karakter Rawa Danau memiliki kekhasan tersendiri. Berbeda dengan Danau Toba di Sumatera Utara yang kedalamannya mencapai sekitar 100 meter, Rawa Danau hanya memiliki kedalaman hingga sekitar 5 meter.

Karena itu, Rawa Danau lebih menyerupai rawa yang secara ekologis berfungsi menyerap air hujan sekaligus membantu mengatur aliran air dari 18 sub Daerah aliran sungai (DAS) yang berhulu di kawasan pegunungan Banten.

“Mirip kaya spons,” celetuk Mufti.

Perumpaan yang dimaksud Mufti yakni mengenai mekanisme alami Rawa Danau yang punya peran besar dalam menjaga stabilitas debit air sungai. Ketika curah hujan tinggi, kawasan tersebut menahan limpasan air sehingga mengurangi potensi banjir. Sebaliknya, pada saat musim kemarau, cadangan air yang tersimpan membantu menjaga aliran tetap mengalir.

Fungsi itu tidak berdiri sendiri. Ia ditopang oleh kekayaan hayati yang tumbuh dan hidup di dalam kawasan. Vegetasi rawa, termasuk berbagai jenis tumbuhan air dan hutan rawa, berperan penting dalam menyerap air sekaligus menjaga kualitasnya.

Rawa Danau hingga sekarang tidak pernah mengalami kekeringan meski di musim kemarau. Tinggi muka air di sana cenderung stabil setiap tahunnya. Di sekeliling Rawa Danau juga ada belasan mata air panas.

Baca Juga :  Terkendala Corona, FFPAC 2020 Tetap Berjalan

“Dengan adanya air panas artinya ada aktivitas magma di bawahnya,” jelasnya.

Mufti memperkirakan Rawa Danau juga memiliki sumber mata air di kawasan Kobakan, yang merupakan hulu DAS Cidanau, dengan kondisi air yang jernih. Selain menerima pasokan air dari belasan sub-DAS, keberadaan sumber mata air tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang membuat Rawa Danau tidak pernah mengalami kekeringan.

Dari belasan sub-DAS yang masuk ke Rawa Danau, kemudian mengalir menjadi satu aliran di Sungai Cidanau yang mengalir hingga ke sisi barat Banten.

“18 (sub-DAS) yang masuk (ke Rawa Danau) yang keluar cuma satu sungai,” ujarnya.

Aliran sungai tersebut juga masuk ke bendungan milik PT Krakatau Tirta Industri (KTI), lalu dipompa dan didistribusikan ke berbagai kawasan industri di Kota Cilegon sebagai air baku. Selain itu, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) turut memperoleh pasokan air dari PT KTI.

“Industri di Cilegon, masyarakat, sampai Pelabuhan Merak itu airnya dari Rawa Danau,” ujarnya.

Rawa Danau juga menyimpan keanekaragaman flora yang bernilai ekologis tinggi. Berbagai jenis tumbuhan endemik dan khas ekosistem rawa hidup berdampingan, membentuk struktur vegetasi yang kompleks. Keberadaan flora ini bukan hanya penting bagi keseimbangan alam, tetapi juga menjadi penopang utama bagi fungsi kawasan sebagai pemasok air.

Selain flora, kawasan ini menjadi habitat bagi beragam fauna. Berbagai jenis burung menjadikan Rawa Danau sebagai tempat mencari makan, berkembang biak, dan beristirahat. Satwa air dan semiakuatik, termasuk ikan dan amfibi, bergantung pada kualitas perairan yang terjaga. Keberadaan fauna tersebut menjadi indikator bahwa sistem ekologi di kawasan ini masih berfungsi dengan baik.

Secara keseluruhan, tercatat sekitar 142 jenis tumbuhan, dengan 84 di antaranya dikenal sebagai tanaman obat. Keanekaragaman fauna pun cukup tinggi, meliputi sekitar 89 jenis burung, 19 jenis ikan, 10 jenis amfibi, 55 jenis serangga, 19 mamalia, serta 11 jenis reptil. Sejumlah satwa yang hidup di Rawa Danau antara lain lutung jawa, kucing hutan, hingga buaya.

Baca Juga :  Kemunculan Buaya Muara Gegerkan Warga Labuan Pandeglang

Karena statusnya cagar alam, tidak seluruh masyarakat diperbolehkan masuk ke Rawa Danau. Bagi orang yang mau masuk ke Rawa Danau hanya diperbolehkan dengan dua tujuan saja. Untuk pendidikan atau penelitian.

“Intinya untuk sistem penyangga kehidupan. tujuannya memastikan pasokan air berjalan dengan baik,” ujarnya.

Mufti menyebutkan bahwa sekitar 1.300 hektare kawasan Cagar Alam Rawa Danau saat ini telah berubah fungsi menjadi persawahan ilegal. Kondisi tersebut, menurut dia, berpotensi mengganggu kemampuan Rawa Danau dalam menyerap air.

Ia juga menduga banjir yang terjadi di Padarincang beberapa waktu lalu berkaitan dengan alih fungsi sebagian lahan Rawa Danau menjadi sawah, sehingga daya serap kawasan tersebut menurun.

“Artinya kan kalau cagar alam tidak boleh ada kegiatan aktivitas manusia. Itu ilegal semua,” ujarnya.

Penulis: Audindra Kusuma
Editor: TB Ahmad Fauzi