Beranda Bisnis Rangkasbitung Banjir Durian, Berkah Bagi Pedagang Durian Baduy

Rangkasbitung Banjir Durian, Berkah Bagi Pedagang Durian Baduy

Abas saat berjualan durian di Gang Kibun, Rangkasbitung. (Foto: Sandi Sudrajat/BantenNews.co.id)

LEBAK — Aroma khas durian menyambut siapa saja yang melintas di sejumlah ruas jalan di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Memasuki musim durian, lapak-lapak pedagang buah berduri itu mulai dipenuhi berbagai ukuran dan jenis durian lokal.

Bagi pedagang, musim durian bukan sekadar momen berburu buah dengan cita rasa khas. Musim ini juga menjadi berkah karena permintaan durian meningkat, termasuk durian yang didatangkan dari kawasan adat Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar.

Kawasan Baduy selama ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil durian di Kabupaten Lebak. Selain Leuwidamar, sejumlah wilayah seperti Gunungkencana, Sobang, Muncang, Lebakgedong, dan Sajira juga menjadi daerah penghasil durian.

Namun, durian dari kawasan Baduy memiliki daya tarik tersendiri. Cita rasa khas dan keberadaannya yang hanya melimpah pada musim tertentu membuat durian Baduy banyak diburu konsumen.

Salah satu lapak yang merasakan ramainya musim durian berada di Gang Kibun, Rangkasbitung. Hampir seluruh durian yang dijual di lapak tersebut berasal dari kawasan Baduy.

Abas, pedagang durian di Gang Kibun, mengaku sudah belasan tahun menjalankan usaha tersebut. Setiap musim durian tiba, lapaknya hampir tak pernah sepi pembeli.

“Hampir setiap musim durian saya berjualan. Kalau lagi musim durian kayak gini, lapak tidak pernah tutup alias nonstop,” kata Abas saat ditemui di lapaknya, Jumat (21/8/2026).

Menurut Abas, harga durian yang dijualnya cukup beragam. Perbedaan harga ditentukan berdasarkan ukuran buah.

Durian berukuran kecil dijual mulai Rp25 ribu per buah. Sementara durian berukuran besar bisa mencapai Rp75 ribu hingga Rp100 ribu.

Untuk menarik pembeli, Abas juga menyediakan durian dalam bentuk paket. Ada paket Rp100 ribu untuk tiga hingga empat buah, tergantung ukuran dan kualitas durian.

Baca Juga :  Sejumlah Pedagang di Tenant MOS Terancam Gulung Tikar

“Kalau harga sih bagaimana ukurannya. Kalau ukurannya kecil ya kita jual dengan harga Rp25 ribu. Kalau yang besar ya bisa dijual dengan harga Rp75 hingga Rp100 ribu. Ada juga yang dijual paketan Rp100 ribu tiga dan Rp100 ribu empat biji,” ujarnya.

Menariknya, pembeli durian di lapaknya bukan hanya warga Rangkasbitung. Sejumlah konsumen dari luar daerah bahkan sengaja datang untuk menikmati durian Baduy langsung di lokasi penjualan.

“Ada juga yang dari Jakarta, Depok, Tangerang yang sengaja membeli dan langsung memakan duriannya di lapak,” ungkapnya.

Ramainya pembeli membuat perputaran durian di lapak Abas cukup tinggi. Dalam sehari, ia mengaku bisa menjual antara 100 hingga 200 buah durian dengan berbagai ukuran.

“Alhamdulillah, kalau lagi musim durian gini bisa menghabiskan 100 hingga 200 biji,” katanya.

Bagi Abas, keberadaan durian Baduy menjadi bagian penting dalam usaha yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun. Namun, melimpahnya durian dari Baduy tidak berlangsung sepanjang tahun.

Ketika pasokan durian dari Baduy mulai berkurang, Abas biasanya mendatangkan durian dari daerah lain, termasuk Sumatera, untuk menjaga lapaknya tetap dipenuhi buah.

“Apabila Baduy sudah jarang durian, saya sering dapat kiriman durian Sumatera,” ucapnya.

Fenomena musim durian di Rangkasbitung memperlihatkan bagaimana hasil perkebunan masyarakat di wilayah pedalaman Lebak ikut menggerakkan roda ekonomi di kawasan perkotaan. Dari kebun-kebun durian di sekitar Baduy, buah-buah tersebut berpindah ke lapak pinggir jalan dan kemudian dinikmati konsumen dari berbagai daerah.

Di tengah aroma durian yang memenuhi Gang Kibun, musim panen menjadi berkah bagi pedagang sekaligus menjadi kesempatan bagi warga untuk menikmati salah satu buah lokal yang identik dengan Kabupaten Lebak.

Baca Juga :  DLH Lebak Angkut Tumpukan Sampah di Terminal Ciboleger

Penulis: Sandi Sudrajat
Editor: Usman Temposo