Beranda Opini Puasa : Solidaritas Dan Kepekaan Sosial

Puasa : Solidaritas Dan Kepekaan Sosial

209
0
Ilustrasi berdoa. (google.com)

Oleh : Abdul Jabar, SP.d

RAMADAN merupakan bulan diturunkannya Alquran untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia dan panduan menuju jalan yang benar. Dalam bulan suci ini, semua umat Islam diwajibkan menjalani puasa yang juga merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Ramadan menjadi momentum untuk memperbaiki karakter manusia. Pada bulan inilah umat Islam semestinya mengasah dirinya untuk kembali melakukan berbagai amalan kebaikan yang mungkin sudah mulai luntur atau bahkan hilang.

Tujuan dari pelaksanaan ibadah puasa adalah untuk mencapai ketakwaan, suatu keadaan yang mampu menjaga diri dari berbuat keburukan. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah:183). Dalam ayat ini jelas dinyatakan adanya keterkaitan antara berpuasa dengan keimanan seseorang.

Ibadah puasa bukan soal siapa yang paing kuat menahan lapar dan haus, melainkan lebih kepada siapa yang mampu menjalaninya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam ajaran agama. Ramadan merupakan bulan yang penuh ampunan sehingga menjalani ibadah puasa di bulan suci ini bagi setiap muslim menjadi begitu istimewa karena dilaksanakan pada bulan yang penuh berkah dan limpahan rahmat, dan segala amal kebaikan yang dilaksanakan akan diberi pahala yang berlipat ganda.

Selain puasa memang tidak hanya sekedar tidak makan dan minum atau menghindari hal-hal yang membatalkan puasa dari subuh hingga bedug magrib. Namun lebih dari itu puasa Ramadan ternyata mengandung nilai-nilai luhur yang tidak hanya berlaku bagi umat muslim saja, tapi nilai-nilai yang ada pada puasa di bulan Ramadan ini juga sangat berkaitan dengan kehidupan antar sesama umat manusia di seluruh dunia.

Jika memang kita adalah orang yang konsisten melakukan puasa Ramadan atau mungkin puasa-puasa yang lainnya maka sudah selayaknyalah kita akan menjadi orang yang mampu menahan diri. Puasa memang menjadi sebuah metode atau cara yang diajarkan oleh agama untuk bisa mengontrol dan mengendalikan diri dari nafsunya supaya tidak terjerumus pada nafsu yang menyesatkan. Meski juga nafsu bisa membawa manusia pada sebuah perjuangan yang positif juga bisa membawa manusia pada keterpurukan. Dari sinilah pengelolaan dan pengendalian akan nafsu ini sangat penting dimiliki seseorang agar ia bisa selamat dan sukses dalam menjalankan hidupnya.

Keistimewaan puasa makin kentara jika dilihat dari efeknya yang bersifat multidimensional, tidak hanya spiritual-individual, tetapi juga sosial. Puasa tak hanya membentuk kesalehan pribadi (spiritual, moral yang cenderung individual), tetapi sekaligus juga kesalehan social. Dalam Bahasa agama disebut habl min Allah wa habl min an-nas (hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama) merupakan dua sisi ibadah yang tidak dapat dipisahkan. Kita tidak diperbolehkan hanya mementingkan ibadah ritual (kesalehan individu) saja namun juga harus dibarengi dengan ibadah sosial (kesalehan social) atau sebaliknya Q.S. al-A’raaf ayat 96,Al Qur’an menggambarkan hubungan antara ketakwaan di satu sisi dan masyarakat di sisi lain. “Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”

Kita saat ini menjalani bulan Ramadan 1440 H. Momentum puasa kali ini, sudah semestinya jika digunakan meningkatkan ibadah vertikal (kepada Allah SWT), dan ibadah horizontal (sesama makhluk hidup). Puasa tidak sekadar rutinitas menjalankan salat tarawih, makan sahur, menahan lapar dan dahaga, kemudian berbuka setelah waktunya tiba atau magrib. Lebih dari itu, puasa membawa misi sosial sekaligus transendental. Misi sosial, karena ia mempunyai magnet tersendiri sebagai mediasi menggugah kesadaran untuk menderma dan menyalurkan bantuan bagi mereka yang tidak mampu, fakir-miskin, dan anak yatim.

Puasa juga mengajari bagaimana rasa berbagi dalam kesengsaraan, penderitaan, dan ketidaknyamanan dengan kaum miskin (dhuafa’) dalam kehidupan. Dibalik pensyariatan ibadah puasa yaitu dengan puasa diharapkan lahirnya rasa persamaan, kesejajaran, kepedulian dan kebersamaan di antara sesama umat islam. Umat Islam adalah umat yang sama, makan pada waktu yang sama dan berpuasa pada waktu yang sama pula. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin dalam menjalankan ibadah ini. Tidak seperti ibadah haji misalnya yang hanya disyariatkan bagi mereka yang memiliki kemampuan secara finansial, ibadah puasa tidak mensyaratkan hal itu.

Berpuasa tak semata-mata menahan dahaga dan lapar, tetapi juga merupakan refleksi teologis untuk membumikan amal saleh dan kasih sayang dalam tindak laku. Karena itu, puasa yang mulanya merupakan implementasi dari rukun agama semata, kemudian menjadi sebuah laku sosial yang sangat konstruktif. Mestinya keistimewaan bulan puasa yang terpancar, dapat menembus relung hati yang terdalam sembari menggugah kesadaran primordial setiap insan.

Sudah saatnya pemahaman kita terhadap ibadah puasa, tidak hanya dalam bentuk formalitas belaka. Pemaknaan tentang pahala yang dijanjikan dalam teks-teks keagamaan mesti dilihat secara holistik, baik makna nyata maupun yang tersirat. Budaya konsumtif yang semakin memuncak bebarengan dengan hadirnya bulan puasa, mestinya ditekan sedemikian rupa guna disalurkan pada usaha pengentasan kemiskinan. Jika hadirnya bulan puasa justru semakin menambah kuota kaum miskin, bukankah lebih baik tidak ada bulan puasa? Apa guna ibadah puasa, jika masih banyak tetangga maupun saudara kita dirundung kemalangan lantaran kemiskinan, sementara kita diam saja? Kesalehan vertikal ibadah puasa semestinya menjiwai langkah dan gerak kita di setiap lini kehidupan.

Dengan kata lain, kesalehan puasa menjiwai hidup kita untuk senantiasa berderma kepada kaum dhuafa, membebaskan kita dari perilaku nista, KKN dan sebagainya. Sudah saatnya, ibadah puasa menjadi kerja nyata kita untuk meningkatkan sensibilitas (kepekaan) sosial, menumbuhkan kesabaran, mampu merasakan penderitaan orang lain, jujur, tabah dan sebagainya. Puasa memang bakal selalu datang dalam setiap tahunnya, tetapi apakah kita mampu mengambil manfaat darinya, atau hanya lapar dan dahaga saja yang kita dapat ? Semua berpulang pada niat kita masing-masing.

Puasa merupakan bentuk ibadah yang memancarkan hikmah bukan saja bagi pembinaan kesalehan individual, melainkan juga bagi peningkatan kesalehan sosial. yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita. Dan ketakwaan ini tercermin dari 2 hal penting dalam kehidupan. Pertama adalah Kesalehan Individual, yang kedua kesalehan sosial. Kesalehan Individual tercermin dari perilaku keseharian kita, yang jujur, amanah, bersikap rendah hati, tawadhu, sederhana dan hal-hal baik lainnya. Sedangkan kesalehan sosial tercermin dari kedermawanan tanggungjawab sosial berupa, perhatian, atensi, empati, simpati kepada orang lain.

Momentum bulan yang penuh rahmah ini, marilah kita tingkatkan rasa solidaritas dan kepekaan sosial sekaligus toleransi kita terhadap sesama. Puasa dapat menjadi mediasi bagi kita untuk memperoleh pendidikan kepekaan sosial. Harapannya, setelah melewati puasa Ramadan ini, tergugahlah jiwa sosial umat Islam yang kemudian menjadikan terciptanya suatu tatanan masyarakat yang sejahtera, saling mengasihi dan menyayangi serta menjauhi perbuatan yang mengarah kebencian, fitnah, adu domba sesama anak bangsa.

Penulis adalah pengurus yayasan Al-Insan dan Pegawai Sekretariat DPRD Kota Cilegon