Beranda Uncategorized PSBB Tak Berlaku di Pasar Induk Rau

PSBB Tak Berlaku di Pasar Induk Rau

1076
0
Suasana Pasar Induk Rau, Kota Serang. (Foto: Afifah/Bantennews)

SERANG – Pasca penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) Agustus lalu di Pasar Induk Rau oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) seperti angin lalu. PKL tetap menggunakan badan jalan untuk berjualan dan nyaris tanpa menghiraukan protokol kesehatan.

Arus lalu lintas meski sedikit longgar, di beberapa titik masih ditemui pedagang yang menggelar lapak di area bahu jalan.

Belum lagi soal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) karena naiknya jumlah kasus Coronavirus di Kota Serang seperti tak berpengaruh apa-apa terhadap aktivitas warga. Interaksi pedagang dan pembeli tetap rapat dan seringkali tanpa masker.



Penertiban lapak-lapak pedagang guna menghindari penumpukkan dan titik kerumunan orang ternyata dikatakan oleh beberapa pedagang tak banyak mengubah kondisi pasar tersebut.

Ela (35) salah satu pedagang kios beranggapan bahwa meski di tengah kondisi pandemi Covid-19, pasar masih menjadi tempat yang ramai dikunjungi banyak orang yang tak mematuhi protokol kesehatan.

“Kondisinya ya gini-gini aja dari dulu juga. Walaupun udah ditertibin, namanya pasar ya masih semrawut aja. Kerumunan sana-sini udah bukan hal aneh lagi,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan BantenNews.co.id, Jumat (11/9/2020) meski sudah dilakukan pengawasan dan pemasangan peringatan untuk menggunakan masker dan menjaga jarak, ternyata belum sepenuhnya dipatuhi masyarakat.

Banyak pedagang di Pasar Induk Rau yang melayani pembeli tanpa mengenakan masker. Tidak sedikit pula pembeli yang memasuki pasar ini tanpa memakai masker.

Hal itu dibenarkan oleh Lisda (33) salah seorang pedagang jajanan kue kering di kawasan Pasar Induk Rau. Ia mengatakan, Pasar Rau dinilai masih bebas dan pengawasan terkait protokol kesehatan belum dilakukan secara ketat meski PSBB telah ditetapkan sejak 10 September 2020 kemarin.

“Masih banyak yang belum sadar memang. Banyak kalau dihitungin yang gak pake masker di sini. Ya karena kebanyakan orang sini itu emang percaya gak percaya sama Corona,” tandasnya. (Afifah/mg/red)