
SERANG – Puluhan pedagang daging di Pasar Induk Rau, Kota Serang, kompak mogok berjualan pada Senin (26/1/2026). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap terus naiknya harga daging sapi impor yang dinilai semakin memberatkan pedagang.
Pantauan di lokasi menunjukkan deretan lapak pedagang daging tampak kosong. Aktivitas jual beli nyaris tidak terlihat setelah para pedagang sepakat menghentikan sementara penjualan selama dua hari, yakni Senin hingga Selasa, 26–27 Januari 2026.
Salah seorang pedagang, Aeng, mengatakan aksi mogok dilakukan karena pedagang berada dalam posisi serba sulit. Di satu sisi, harga daging sapi impor terus mengalami kenaikan. Namun di sisi lain, pembeli kerap memprotes saat harga jual dinaikkan.
“Sejak awal Desember lalu, menjelang akhir tahun, harga sapi terus melonjak. Kalau kami ikut menaikkan harga, pembeli protes. Tapi kalau tidak dinaikkan, kami justru rugi,” ujarnya.
Diketahui, harga daging sapi impor asal Australia mengalami kenaikan dari Rp125.000 per kilogram menjadi Rp135.000 per kilogram. Kondisi tersebut memicu keresahan pedagang daging di sejumlah pasar tradisional di Provinsi Banten.
Ketua Gabungan Pengusaha dan Pedagang Daging (Gapenda) Provinsi Banten, A Kiruzzaman, menyebut aksi mogok jualan tidak hanya terjadi di Pasar Induk Rau, tetapi juga di beberapa daerah lainnya.
“Sekitar 350 pedagang daging di Pandeglang, Kota Serang, Kabupaten Serang, Lebak, dan Kota Cilegon kompak mogok jualan,” katanya.
Para pedagang mendesak pemerintah segera turun tangan memberikan solusi atas tingginya harga daging sapi impor. Mereka khawatir, jika kondisi ini terus dibiarkan, harga daging akan semakin melambung, terutama menjelang bulan suci Ramadan.
Penulis: Ade Faturohman
Editor: Usman Temposo