Beranda Hukum Preman Taman Hutan Kota Jombang Palak Pengunjung Hingga Ratusan Ribu

Preman Taman Hutan Kota Jombang Palak Pengunjung Hingga Ratusan Ribu

412
0
Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany meresmikan Hutan Kota Jombang di Tangsel.

TANGSEL – Baru saja diresmikan pada Minggu (9/2/2020) kemarin, kini Taman Hutan Kota Jombang, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), menjadi tempat aksi premanisme.

Para preman itu dengan seenaknya mengambil alih lahan parkir yang seharusnya dikelola oleh Karang Taruna setempat. Parahnya lagi, preman tersebut mematok tarif bagi pengunjung yang hendak membuat video.

Salah satu pengunjung Rabbani (25) mengungkapkan, dirinya datang ke taman tersebut berlima bersama kawan-kawannya. Namun saat hendak masuk, sontak diberhentikan oleh pemuda kumuh mengenakan pakaian salah satu ormas.

“Ya tadi saya distop. Katanya kalau mau bikin video di sini buat dimasukkin ke Youtube atau di medsos yang lain harus bayar. Tadi katanya ratusan ribu kalau nggak salah,” kata Rabbani di lokasi taman, Kamis (13/2/2020).

Taman Hutan Kota Jombang memang saat ini menjadi sasaran berbagai kalangan untuk berfoto ria, membuat video, atau hanya berjalan-jalan.

Fasilitas-fasilitas di dalamnya pun cukup lengkap, dari mulai musala, toilet, rumah pohon, jembatan gantung, flying deck, jogging track, gazebo, fitness outdoor dan playground.

Namun, taman yang seharusnya membuat masyarakat senang itu ternyata dimanfaatkan oleh otak-otak licik para preman berbaju ormas tersebut.

Arogansi preman Ormas tersebut membuat gerah pula pemuda Karang Taruna. Tapi apa boleh buat, demi menghindari gesekan, lalu pengurus Karang Taruna dan warga setempat memilih mengalah.

“Mereka (preman Ormas) minta parkiran diambil alih sama mereka semua. Padahal kalo Karang Taruna yang kelola nanti jelas pertanggungjawaban uang karcisnya, bisa untuk menambah kas lingkungan, kebersihan, dan lain-lain. Kalau sama mereka, ya nggak tahu bakal dikemanain uangnya,” tutur DN, salah satu warga yang menolak arogansi preman berkedok ormas di lokasi.

Menurut DN, memang lahan parkir tersebut tidak sepenuhnya dikuasai oknum preman ormas itu melainkan bergantian dengan Karang Taruna selang 1 hari. Namun begitu, kata dia, tetap saja hal itu tidak bagus.

“Masa fasilitas masyarakat seperti ini mereka mau kuasain juga, mereka yang atur-atur, harus bayar sekian-sekian. Aturan kan dibiarin aja, mau buat video di dalam, mau apa juga biarin aja, namanya taman baru wajarlah ramai yang datang,” pungkasnya. (Ihy/Red)