
PANDEGLANG – Kehidupan santri di pondok pesantren tidak hanya berkutat pada aktivitas mengaji dan pendidikan agama. Kepadatan aktivitas, pola hidup bersama, hingga kondisi lingkungan pesantren membuat aspek kesehatan menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan.
Karena itu, keberadaan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) didorong tidak sekadar menjadi tempat berobat ketika santri sakit. Poskestren diharapkan berfungsi sebagai pintu masuk edukasi sekaligus pencegahan berbagai persoalan kesehatan di lingkungan pesantren.
Hal tersebut disampaikan Bupati Pandeglang Raden Dewi Setiani saat menghadiri kegiatan Pembinaan dan Pengembangan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) dan Poskestren di Pondok Pesantren Al-Ikhsan, Kadomas, Kecamatan Pandeglang, belum lama ini.
Dewi menilai kesehatan memiliki kaitan langsung dengan kemampuan santri mengikuti proses pendidikan. Santri yang sehat secara fisik dan memiliki kondisi mental yang baik dinilai lebih siap menjalani aktivitas belajar maupun kegiatan pesantren yang padat.
“Santri bukan saja harus kuat mengaji, tetapi juga harus kuat secara fisik dan mental. Kalau fisiknya sehat dan mentalnya kuat, tentu proses belajar dan aktivitas di pesantren akan berjalan lebih baik,” ujar Dewi.
Menurutnya, pendidikan kesehatan perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembentukan karakter santri. Dengan demikian, santri tidak hanya dibekali kemampuan akademik dan pemahaman agama, tetapi juga kebiasaan menjaga kebersihan, menerapkan pola hidup sehat serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Dewi juga meminta pengelola pesantren, tenaga kesehatan, guru dan santri membangun budaya hidup bersih dan sehat secara bersama-sama.
“Pendidikan kesehatan harus menjadi bagian dari pembentukan karakter santri. Kita ingin santri Pandeglang tidak hanya cerdas dan memiliki pemahaman agama yang baik, tetapi juga sehat, disiplin dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan,” katanya.
Pengasuh Ponpes Al-Ikhsan, Hj. Naih Qurrotula’in, menyambut baik pembentukan dan pengembangan Poskestren. Menurutnya, keberadaan Poskestren dapat menjadi sarana bagi santri untuk memperoleh pengetahuan kesehatan secara langsung.
Bagi lingkungan pesantren, edukasi tersebut dinilai penting karena para santri menjalani aktivitas secara bersama dalam satu lingkungan. Kesadaran menjaga kebersihan diri dan lingkungan menjadi salah satu faktor untuk mencegah munculnya penyakit.
“Kami sangat mendukung adanya Poskestren ini karena sangat membantu dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan kesehatan para santri,” ujarnya.
Ia berharap koordinasi antara pesantren dengan pemerintah daerah, khususnya Dinas Kesehatan dan Puskesmas, tidak berhenti setelah kegiatan pembinaan selesai.
Menurutnya, sinergi tersebut diperlukan agar program kesehatan di pesantren dapat berjalan secara berkelanjutan dan tidak hanya bersifat seremonial.
Sementara itu, pihak terkait menilai Poskestren memiliki peran strategis dalam memberikan pelayanan sekaligus edukasi kesehatan di lingkungan pondok pesantren. Santri diharapkan tidak hanya datang ke layanan kesehatan ketika sudah mengalami keluhan, tetapi juga memahami langkah pencegahan penyakit.
Pembinaan dan pengembangan UKS serta Poskestren tersebut turut dihadiri Kepala UPT Puskesmas Pandeglang Hj. Eni Rohaniah, Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Pandeglang Ani Permatasari Hakim, Sekretaris Kecamatan Pandeglang Hj. Nunung, serta Lurah Kadomas Emil.
Penguatan Poskestren pada akhirnya bukan hanya soal menyediakan layanan kesehatan di pesantren. Lebih jauh, program ini menjadi upaya membangun kebiasaan hidup sehat di tengah aktivitas pendidikan santri yang berlangsung setiap hari.
Tim Redaksi