Beranda Sosial Pilu! Anak Disabilitas di Pandeglang Tak Bisa Berobat Akibat BPJS Nonaktif

Pilu! Anak Disabilitas di Pandeglang Tak Bisa Berobat Akibat BPJS Nonaktif

Potret Siti Lutfiah (19), penyandang disabilitas, bersama ibunya di rumah sederhana di Kampung Kubang, Desa Mekarwangi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang/Madani Prasetia

PANDEGLANG – Di sebuah rumah sederhana di Kampung Kubang, Desa Mekarwangi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di atas sebuah tempat tidur, Siti Lutfiah (19) menghabiskan hari-harinya tanpa mampu menjalani kehidupan seperti remaja seusianya.

Sejak lahir, hidup Siti tak pernah mudah. Tubuhnya lemah, kemampuan berkomunikasinya nyaris tidak berkembang, dan seluruh aktivitasnya bergantung pada kedua orang tuanya, Sudisman dan Anawiyah.

Anawiyah masih mengingat bagaimana kondisi putrinya mulai berubah saat masih bayi. Siti sempat mengalami kejang disertai demam tinggi. Sejak saat itu, tumbuh kembangnya tidak berjalan sebagaimana mestinya hingga akhirnya mengalami disabilitas yang membuatnya tidak mampu berkomunikasi maupun mengurus dirinya sendiri.

Kini, di usia 19 tahun, hampir seluruh waktunya dihabiskan di atas tempat tidur. Untuk makan, mandi, hingga berpindah posisi, semuanya harus dibantu kedua orang tuanya.

Anawiyah bercerita, putrinya tidak pernah merasa nyaman mengenakan pakaian. Setiap kali dipakaikan baju, Siti akan terus menggaruk tubuhnya hingga akhirnya melepas pakaian tersebut sendiri.

“Kalau dipaksa pakai baju suka enggak betah, garuk-garuk terus. Nanti juga dilepas sendiri,” tutur Anawiyah, Sabtu (4/7/2026).

Di balik perjuangan merawat anaknya, keluarga ini juga harus menghadapi kenyataan pahit lainnya. Kondisi ekonomi yang serba terbatas membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, terlebih ketika Siti membutuhkan pengobatan.

Harapan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan melalui BPJS Kesehatan pun sirna karena kepesertaan Siti sudah tidak aktif.

Akibatnya, saat kondisi Siti sempat memburuk, keluarga tidak dapat memanfaatkan layanan BPJS. Mereka terpaksa membayar seluruh biaya pengobatan secara mandiri ketika Siti dirawat di RSUD Berkah Cikoneng.

“Bukan tidak punya BPJS Kesehatan, tapi sudah tidak aktif. Kemarin waktu sakit parah enggak bisa dipakai. Dirawat di RSUD Berkah Cikoneng akhirnya bayar pakai umum,” kata Anawiyah.

Baca Juga :  Hajatan Kebudayaan di Milad 33 Tahun KPC Blosso Kota Tangerang Semarak

Beban yang dipikul keluarga ini terasa semakin berat karena hingga kini mereka mengaku belum pernah menerima bantuan yang dapat membantu biaya perawatan maupun kebutuhan khusus Siti sebagai penyandang disabilitas.

Meski hidup dalam keterbatasan, Anawiyah tidak kehilangan harapan. Ia berharap ada perhatian dari pemerintah agar kepesertaan BPJS putrinya dapat kembali aktif sehingga Siti memperoleh akses layanan kesehatan yang layak. Ia juga berharap ada bantuan sosial maupun uluran tangan dari para dermawan untuk meringankan beban keluarganya.

“Kami berharap ada bantuan dari pemerintah ataupun para dermawan untuk membantu pengobatan dan kebutuhan anak kami,” ucapnya lirih.

Penulis: Mg-Madani Prasetia
Editor: Usman Temposo