Beranda Opini Permainan dan Lagu Tradisional yang Mulai Dilupakan

Permainan dan Lagu Tradisional yang Mulai Dilupakan

Salah satu permainan tradisional - foto istimewa WowKeren.com

Oleh : Ridha Wahyu Diani, Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Pamulang

 

Nostalgia bagi anak tahun 90-an, rasanya bila pulang sedikit terlambat tak jadi masalah ketimbang harus alfa bermain dengan teman di tanah lapang, halaman rumah, ladang, hingga sawah yang berlumpur, pulang dengan pakaian kotor serta kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Rasanya seperti mimpi zaman yang tertinggal itu, membentuk kelompok bermain, bekerja sama satu sama lain agar tidak kalah dalam permainan, berlarian di bawah terik matahari, berteriak, hingga bernyanyi-nyanyi, tak peduli dengan rupiah, karena bermain dan mencari kebahagiaan pada masa itu tak perlu mengeluarkan biaya.

Berbeda di masa kini, permainan tradisional yang hanya membutuhkan sebatang kayu, pecahan genting, dan benda-benda sederhana lainnya itu mulai tak nampak lagi, lantunan lagu tradisional yang serat akan makna kini sudah tidak terdengar lagi, seketika redup, dan tergantikan oleh zaman.

Anak-anak di era milenial ini mulai tidak mengenali permainan tradisional dan lagu-lagu tradisional, permainan yang seperti galaksin, ingkling, karet, jaga benteng, lantas lagu-lagu tradisional yang kerap kali mengiringi permainan itu pun turut hilang, seperti cublak-cublak suweng, ampar-ampar pisang, gundul-gundul pacul, lir-ilir dan lain sebagainya.

Dewasa ini, kanak-kanak hingga remaja seolah sirna kebudayaannya, mereka lebih mengenal lagu-lagu asing dan lebih memilih bermain gadget seharian ketimbang mengenal dan melestarikan permainan- permainan tradisional, yang sebetulnya jauh lebih menyenangkan. Bila dibandingkan dengan permainan tradisional, game online memiliki cukup banyak dampak negatif, bermain game online yang berketerusan juga dapat mempengaruhi kesehatan, seperti gangguan penglihatan, juga dapat membentuk karakter anak menjadi semakin kasar, karena candu pada gadget membuat anak menjadi emosional, mudah marah, dan nakal.

Lalu ketika kita lihat lagu-lagu yang sedang menjadi tranding menurut youtube dan di dunia maya serta menjadi pilihan para remaja hingga kanak-kanak di sekolah dasar, tak lekang dari unsur asmara dan cinta-cintaan, maka tak asing bila ada beberapa saluran televisi yang menayangkan film romansa anak-anak remaja. Mereka memanfaatkan kelemahan generasi muda untuk menaikan ratting. Hal ini wajib dan sudah sepatutnya diperhatikan, apa pun yang menjadi konsumsi kanak-kanak di masa kini.

Kita kembali pada lagu tradisional contohnya adalah lagu lir ilir, lir ilir merupakan tembang yang diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, sebagai pengingat bagi umat islam di seantero nusantara. Lalu ada lagu cublak-cublak suweng, yang di dalamnya terdapat makna yang amat dalam, bila diteliti lagu tersebut memperkuat nilai budaya bangsa, dahulu lagu ini merupakan dolanan, yakni salah satu bentuk karya sastra jawa yang digunakan anak-anak untuk bermain. Lagu ini memiliki ajaran kepada anak agar disiplin, menjaga harmoni dengan alam, sesama manusia, juga dengan orang tua. Lagu cublak-cublak suweng diciptakan oleh Syekh Maulana Ainul Yaqin yakni Sunan Giri, dalam masa penyebaran Agama Islam.

Mengajarkan anak dengan lagu tradisional sama dengan membentuk anak menjadi pribadi yang mencintai budaya bangsa, dan mampu membentuk karakter anak menjadi pribadi yang disiplin dan rendah hati.

Sejatinya lagu-lagu serta permainan tradisional dari seluruh daerah Nusantara memiliki amanat yang baik, serta mengandung nilai moral yang dapat dijadikan teladan untuk generasi kita. Anak-anak Indonesia. Jangan sampai permainan dan lagu tradisional hanya menjadi sejarah kuno, dan hanya sekedar tahu tanpa merasa perlu melestarikannya.

(***)

Temukan Berita BantenNews.co.id di Google News