Beranda Pendidikan Perlu Literasi Kebangsaan dalam Menjaga Persatuan dan Kesatuan

Perlu Literasi Kebangsaan dalam Menjaga Persatuan dan Kesatuan

58
0

SERANG – Di tengah era perubahan zaman yang berlangsung cepat, literasi kebangsaan sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan Bangsa Indonesia. Kebutuhan akan literasi kebangsaan sangat mendesak untuk melindungi pola pikir anak bangsa dari serbuan informasi asing yang masuk dengan membawa berbagai gagasan yang positif maupun negatif. Gagasan yang masuk tersebut tidak seluruhnya sesuai dengan nilai, etika dan falsafah bangsa, yakni Pancasila.

Hal tersebut terungkap dalam seminar tematik kebangsaan dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-73 pada Agustus mendatang. Seminar dengan tema ‘Peran Literasi Kebangsaan untuk Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa’ diadakan oleh komunitas Rumah Dunia sebagai madrasah kebudayaan yang bergiat di bidang jurnalistik, sastra, film, teater, musik dan menggambar, Senin (30/7/2018).

Seminar ini menghadirkan narasumber yakni Boyke Pribadi sebagai akademisi Untirta, Rahmat Heldy salah seorang guru SMA AL-Irsyad, dan Sobirin yang menulis banyak buku dengan nama pena Ahmad Wayang.
Dalam paparannya, Boyke berusaha menyadarkan para peserta tentang besar dan luasnya Indonesia yang kaya akan ragam budaya, bahasa, adat istiadat, dan sumber daya alam.

“Jika membandingkan Indonesia dengan negara lain, maka panjang Indonesia dari Sabang sampai Merauke itu setara dengan 6 buah negara di Afrika atau 8 negara di Eropa,” ujar Boyke.

Luasnya negara Indonesia tersebut membutuhkan rasa persatuan dan kesatuan yang kuat dari warga negaranya yang memiliki banyak perbedaan. Itulah sebabnya para pendiri Bangsa Indonesia bersepakat menjadikan Pancasila sebagai dasar negara yang mengikat seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia.

Pada bagian lain, Rahmat Heldy menceritakan betapa sulitnya mengajarkan literasi kebangsaan kepada para siswa pada hari ini, karena para guru lebih sibuk dengan gadget atau dawai ketimbang menyisipkan nilai kebangsaan dalam setiap pengajaran yang dilakukannya.

“Menurut saya, ketika masuk kelas, seharusnya seorang guru tidak boleh sibuk berinteraksi dengan gadget, karena ketika melangkah ke dalam kelas, maka waktu milik sang guru tersebut menjadi waktu milik para murid,” ungkap Heldy.

Pentingnya literasi kebangsaan juga disampaikan oleh Sobirin yang meyakini bahwa buku atau apapun yang dibaca oleh seseorang akan berpengaruh terhadap pola pikir dan tingkah laku seseorang dalam kehidupan sehari hari. (ink/red)