Beranda Komunitas Perihal Puisi (Untuk Pemula Banget!)

Perihal Puisi (Untuk Pemula Banget!)

Ketua Kubah Budaya Eka Ugi Sutikno.

Oleh: Eka Ugi Sutikno, Ketua Kubah Budaya

Puisi berkaitan erat dengan alat musik Yunani kuno, lyra (lira) atau harpa. Berkait erat karena pada zaman itu, lyra ini selalu mengiringi pembacaan puisi. Lalu Klarer menambahkan bahwa puisi juga berasal dari istilah “poieo” yang memiliki makna “membuat” atau “menghasilkan.” Indikasi ini merujuk kepada penyair yang “membuat’ sajak (Klarer, 2013). Di sisi yang sama bahwa puisi mampu membangkitkan kesadaran imajinatif dari pengalaman atau respons emosional tertentu melalui bahasa yang dipilih dan diatur untuk maknanya, bunyi, dan ritmenya (Nemerov, 2020). Keterangan Nemerov ini sepertinya merujuk kepada pemilihan kata atau diksi yang tepat agar tampak sebagai karya yang indah.

Ada yang mengatakan bahwa puisi memiliki pola rima, membicarakan cinta, menentang ketidakadilan, hingga membicarakan perempuan. Beberapa hal di tersebut dapat saya afirmasi karena pola rima hingga wacana perempuan ini memang ada, menjadi populer sebagai tema yang diangkat menjadi sebuah puisi. Di sastra Inggris, pola rima terdapat di Old-English Literature hingga Victoria Period. Di sana kita akan menemukan bagaimana suatu kata dirangkai menjadi indah. Ada yang memiliki pola a-b-a-b atau a-a-b-b, tentu, ini akan mengacu kepada akhiran puisi. Pun yang terjadi di Indonesia, karya gurindam 12, contohnya, tidak luput dari rima. Pola semacam ini juga sering ada kaitannya dengan bernada asmara untuk mengungkapkan rasa cinta terhadap perempuan atau laki-laki. Seperti apa yang ditulis oleh John Keats (1795-1821) pada Bright Star, ia mengungkapkan rasa cinta kepada seorang perempuan. Lain halnya dengan Chairil Anwar (1922-1949), kebanyakan bahkan mungkin setiap puisinya tidak memiliki rima yang berirama, di dalam puisi yang berjudul Cintaku Jauh di Pulau memperlihatkan bahwa cinta adalah hal yang konkret. Apabila bentuk karya sastra ini diciptakan untuk membicarakan ketimpangan sosial, maka W.S. Rendra (1935-2009) tidak dapat diragukan lagi akan kepiawaiannya membahas mengenai politik pemerintah yang amburadul. Begitu juga dengan Langston Hughes (1902-1967), ia sering mengkritik penguasa atas kebijakan publik atas rasisme di Amerika Serikat.





Tidak hanya itu, wacana perempuan pun hadir ketika Kim Addonizio menulis What Do Women Want? Di sana pembaca akan ditarik kepada hal yang domestik, akan tetapi sebenarnya ia membicarakan bagaimana perempuan menjadi subjek yang subaltern atau tertindas. Di buku Pertanyaan-pertanyaan tentang Dunia (Sekumpulan Puisi) karya Mutia Sukma pun membicarakan hal yang sama, yakni perempuan. Di dalamnya pembaca akan melihat bagaimana rupa seorang perempuan di hadapan laki-laki yang superior.
Beberapa hal di atas merupakan contoh yang dapat diapresiasi oleh seseorang mulai dari membaca, membuat ulasan hingga mengkritisi. Akan tetapi, tentunya, karya sastra dapat dipastikan memiliki pembaca sehingga apa yang dikatakan oleh Kooser dalam bukunya yang berjudul The Poetry Home Repair Manual (Practical Advice for Beginning Poets) (Kooser, 2005) bahwa puisi merupakan komunikasi. Tentu saja, komunikasi ini menjadi bagian dari bahasa yang diejawantahkan seseorang melalui beragam cara. Tidak berhenti sampai di sini, bahasa ini dapat memengaruhi orang lain, yakni pembacanya. Apabila demikian, ketika sebuah karya membicarakan mengenai cinta maka pembaca memiliki perasaan yang serupa. Mayo juga menegaskan bahwa puisi merupakan bagian dari communication of feeling. Maksudnya adalah apa yang dibutuhkan adalah dengan berbagi perasaan (Mayo, 1954), karena puisi yang baik hanya menghidupkan potensi yang baik dalam diri seseorang, pada saat ia tersentuh membacanya (Mohamad, 2012).

Sehingga ketika seorang pembaca merasa antusias dengan sebuah karya ia akan menuangkannya ke dalam tulisan di media sosial hingga menulis ulasan di media cetak atau digital.

Lalu, sebenarnya apa yang dikomunikasikan puisi? Puisi memang sebuah karya non-scientific atau tidak ilmiah, akan tetapi ia dapat mengomunikasikan suatu fakta, gagasan, perasaan atau pengalaman, dan hal-hal yang bersifat abstrak atau yang tidak dapat dikategorikan.

Puisi mengomunikasikan fakta adalah dengan mengambil contoh Merry-Go-Round (Komedi Putar) karya Langston Hughes. Ketika ia menulis, situasi Amerika Serikat masih berada di dalam krisis konflik rasisme yang berkepanjangan, sehingga di sana terdapat pemisahan antara kulit putih dan berwarna. Kemudian, gagasan yang ditunjukan kepada publik adalah suatu kebingungan, karena komedi putar tidak ada tempat duduk bagian belakang sehingga dominasi kulit putih masih berdiri gagah. Secara konotatif, gagasan pun dapat ditemukan ketika membaca karya Giuseppe Ungaretti yang berjudul My Rivers (Sungaiku) (Ungaretti, 1971, 2021) bahwa perang merupakan kejahatan yang paling buruk sehingga harus dihentikan. Ketika Yusril Ihza F. A. menulis Soneta Musim Ketujuh (A., 2020), tampak sangat personal membicarakan bagaimana hangat dan hilangnya cinta seseorang. Dan yang terakhir adalah mengomunikasikan hal yang abstrak. Maksudnya adalah menggambarkan sesuatu di luar dunia nyata. Hal ini mengapa, Edith Sitwell membuat puisi abstrak yang hanya menampilkan suara dibandingkan dengan makna. (***)